Hukum dan Peristiwa
Beranda / Hukum dan Peristiwa / “Kembalikan Saya ke Keluarga”: Sisi Personal Pledoi Heri Wardoyo dalam Kasus PI 10 Persen PT LEB (Pledoi 4)

“Kembalikan Saya ke Keluarga”: Sisi Personal Pledoi Heri Wardoyo dalam Kasus PI 10 Persen PT LEB (Pledoi 4)

pledoi heri wardoyo
Heri Wardoyo

Dalam pledoi kasus PI 10 persen PT Lampung Energi Berjaya, Heri Wardoyo menyampaikan sisi personal tentang keluarga, kesehatan, dan harapannya memperoleh keadilan dari majelis hakim.

Di balik perdebatan tentang Participating Interest (PI) 10 persen, tata kelola perusahaan daerah, dan konstruksi hukum yang diperdebatkan di ruang sidang, terselip satu bagian yang paling manusiawi dalam pledoi Heri Wardoyo.

Bukan tentang pasal.

Bukan tentang kerugian negara.

Bukan pula tentang kewenangan komisaris dan direksi.

SPMB Lampung 2026 Berjalan Lancar, Kritik Masyarakat Jadi Bahan Perbaikan

Melainkan tentang keluarga.

Tentang seorang ayah yang meminta kesempatan untuk pulang.

Dalam nota pembelaan pribadinya yang dibacakan di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang, Kamis (11/6/2026), Heri tidak hanya menyampaikan argumentasi hukum. Pada bagian akhir pledoinya, ia memilih berbicara sebagai seorang suami, seorang ayah, dan seorang manusia yang sedang menghadapi salah satu fase terberat dalam hidupnya.

Setelah berbulan-bulan menjalani proses hukum dalam perkara dugaan korupsi pengelolaan dana PI 10 persen PT Lampung Energi Berjaya (LEB), Heri mengaku menyadari bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dikendalikan.

Namun ia berharap masih ada ruang bagi keadilan untuk melihat dirinya secara utuh.

WTP ke-12 Lampung: Kepercayaan Publik Menjadi Aset Pembangunan yang Paling Berharga

Bukan hanya sebagai terdakwa.

Tetapi juga sebagai bagian dari sebuah keluarga.

Sebagian besar pledoi Heri berisi argumentasi hukum mengenai posisi komisaris, kewenangan korporasi, dan tanggung jawab dalam pengelolaan perusahaan.

Namun menjelang akhir pembelaannya, nada tulisan berubah.

Menjadi lebih personal.

Heri Wardoyo: Saya Komisaris PT Lampung Energi Berjaya, Bukan Pengelola (Pledoi 3)

Lebih tenang.

Dan lebih emosional.

Heri menceritakan bahwa usianya tidak lagi muda.

Ia telah melewati berbagai fase kehidupan, termasuk menghadapi persoalan kesehatan yang tidak ringan.

Dalam pembelaannya, Heri mengungkapkan pernah menjalani operasi jantung dan masih harus menjalani pengawasan kesehatan secara berkala.

Di tengah proses hukum yang sedang berlangsung, kondisi tersebut menjadi salah satu beban yang harus dihadapinya.

Namun yang paling sering muncul dalam bagian akhir pledoi bukanlah kesehatan.

Melainkan keluarga.

Seorang Ayah yang Ingin Pulang

Di hadapan majelis hakim, Heri menggambarkan keluarganya sebagai sumber kekuatan utama selama menjalani proses hukum.

Ia mengaku terus memikirkan istri dan anak-anaknya yang harus menjalani kehidupan dengan situasi yang tidak mudah.

Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam pledoi itu adalah ketika Heri menyinggung anak bungsunya yang masih menempuh pendidikan di luar daerah.

Sebagai seorang ayah, ia mengaku memikirkan masa depan anak-anaknya di tengah proses hukum yang sedang berjalan.

Tidak ada bahasa yang meledak-ledak.

Tidak ada upaya menggugah emosi secara berlebihan.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat bagian tersebut terasa kuat.

Sebab pada akhirnya, di balik status terdakwa, terdapat seorang kepala keluarga yang sedang menunggu putusan yang akan menentukan arah hidupnya ke depan.

Menariknya, Heri tidak menggunakan bagian akhir pledoi untuk menyerang jaksa atau pihak lain.

Ia juga tidak membangun narasi bahwa dirinya adalah korban.

Sebaliknya, ia meminta agar seluruh fakta yang telah terungkap di persidangan dinilai secara objektif.

Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada majelis hakim.

Namun di saat yang sama, ia berharap aspek kemanusiaan turut menjadi bagian dari pertimbangan.

Karena menurutnya, putusan pengadilan tidak hanya menyentuh satu orang.

Tetapi juga menyentuh keluarga yang berada di belakang orang tersebut.

Dalam banyak perkara korupsi, ruang sidang biasanya dipenuhi istilah hukum, audit, laporan keuangan, dan konstruksi pasal.

Pledoi Heri menghadirkan sisi lain.

Bahwa di balik setiap perkara, selalu ada manusia yang sedang menunggu nasibnya diputuskan.

Menunggu Putusan

Perkara dugaan korupsi pengelolaan dana PI 10 persen PT Lampung Energi Berjaya kini memasuki tahap akhir.

Setelah pembacaan pledoi para terdakwa, persidangan akan berlanjut dengan agenda tanggapan jaksa sebelum majelis hakim menjatuhkan putusan.

Bagi Heri Wardoyo, putusan itu bukan hanya tentang vonis.

Bukan hanya tentang perkara hukum yang sedang berjalan.

Tetapi juga tentang harapan untuk kembali menjalani kehidupan bersama keluarga yang selama ini menjadi alasan utamanya untuk bertahan.

Dan di antara halaman-halaman pledoi yang dipenuhi argumentasi hukum, mungkin itulah kalimat yang paling sederhana sekaligus paling kuat, yaitu keinginan untuk kembali pulang.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer Bulan Ini

Opini & Insight

Daerah