Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Surplus Perdagangan Lampung Makin Gemuk, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Surplus Perdagangan Lampung Makin Gemuk, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sumber: BPS Lampung

Bandar Lampung – Di tengah pelemahan ekspor pada awal 2026, neraca perdagangan Provinsi Lampung justru mencatatkan kinerja yang semakin kuat. Sepanjang Januari-April 2026, surplus perdagangan Lampung mencapai US$1.396,20 juta, meningkat US$273,11 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$1.123,09 juta.

Sekilas, angka tersebut bisa menimbulkan kesan bahwa ekspor Lampung sedang melesat. Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menunjukkan cerita yang berbeda.

Nilai ekspor Lampung selama Januari-April 2026 tercatat US$1.885,46 juta, turun 2,09 persen dibandingkan Januari-April 2025 yang mencapai US$1.925,68 juta. Di sisi lain, impor justru mengalami penurunan jauh lebih tajam, dari US$802,59 juta menjadi US$489,26 juta, atau turun 39,04 persen.

Artinya, surplus perdagangan Lampung membesar bukan karena lonjakan ekspor, melainkan karena kebutuhan impor menyusut jauh lebih cepat dibandingkan penurunan ekspor.

Perubahan terbesar terjadi pada impor migas. Selama Januari-April 2025, Lampung masih mengimpor migas senilai US$463,36 juta. Namun pada periode yang sama tahun ini, nilainya tinggal US$35,17 juta.

Sedikit Membeli BBM dari Luar Negeri, Lampung Kini Lebih Banyak Membeli Alat Produksi

Dalam empat bulan, impor migas menyusut US$428,19 juta atau turun 92,41 persen.

Penurunan tersebut bahkan lebih besar daripada total penurunan impor Lampung yang mencapai US$313,33 juta. Dengan kata lain, hampir seluruh perubahan pada kinerja impor Lampung berasal dari berkurangnya impor migas.

Sebaliknya, impor nonmigas justru bergerak ke arah berbeda. Nilainya naik dari US$339,22 juta menjadi US$454,10 juta, atau tumbuh 33,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data ini menunjukkan bahwa aktivitas impor Lampung tidak sepenuhnya melemah. Yang terjadi adalah perubahan komposisi barang yang masuk ke daerah.

Dari sisi ekspor, mesin utama perdagangan luar negeri Lampung juga mengalami pergeseran. Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor US$1.382,81 juta atau setara 73,34 persen dari total ekspor daerah.

Sawit Menahan Laju Penurunan Ekspor Lampung di Tengah Kejatuhan Kopi dan Rempah

Sementara itu, sektor pertanian yang selama ini identik dengan kekuatan ekspor Lampung justru mengalami tekanan. Nilai ekspor sektor pertanian turun dari US$437,34 juta menjadi US$228,34 juta, atau merosot 47,79 persen dibandingkan Januari-April 2025.

Meski demikian, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati yang didominasi produk berbasis sawit masih menjadi komoditas ekspor terbesar Lampung dengan nilai US$889,42 juta, naik 13,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Lampung tetap berada di zona yang sangat nyaman. Selama Januari-April 2026, sektor nonmigas mencatat surplus US$1.431,36 juta, sementara sektor migas mengalami defisit US$35,17 juta.

Pada April 2026 saja, Lampung membukukan surplus perdagangan sebesar US$332,19 juta, berasal dari ekspor US$504,59 juta dan impor US$172,40 juta.

Di balik angka surplus yang membesar, data BPS memperlihatkan satu fakta penting: perdagangan luar negeri Lampung sedang mengalami perubahan struktur. Ekspor semakin ditopang industri pengolahan dan produk berbasis sawit, sementara impor migas menyusut tajam dan porsi impor nonmigas semakin dominan.

Bukan Lagi Soal Sekolah Favorit: Data PTN 2026 Mengubah Peta Pendidikan Lampung

Perubahan inilah yang membuat surplus perdagangan Lampung terus menguat, meskipun ekspor daerah belum sepenuhnya kembali ke jalur pertumbuhan.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *