Daerah Ekonomi
Beranda / Ekonomi / APBN Lampung Hingga April Tetap Ekspansif di Tengah Gejolak Global

APBN Lampung Hingga April Tetap Ekspansif di Tengah Gejolak Global

APBN Lampung
Ilustrasi

APBN Lampung hingga April 2026 tetap ekspansif di tengah gejolak global. Pendapatan negara tumbuh 5,19 persen, belanja negara mencapai Rp9,91 triliun, dan ekonomi Lampung tumbuh 5,58 persen.

BANDARLAMPUNG — Ketidakpastian ekonomi global belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tingginya biaya logistik internasional, fluktuasi harga komoditas, hingga tekanan pasar keuangan global masih menjadi tantangan yang harus dihadapi berbagai daerah, termasuk Lampung.

Namun di tengah situasi tersebut, perekonomian Lampung masih mampu menunjukkan daya tahan yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, pengangguran terus menurun, investasi masih tumbuh positif, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjalankan perannya sebagai penopang aktivitas ekonomi daerah.

Data Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Lampung menunjukkan hingga April 2026, kinerja APBN regional masih berada pada jalur positif baik dari sisi pendapatan maupun belanja negara.

Sejumlah risiko global masih membayangi perekonomian nasional dan daerah. Konflik geopolitik berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dan meningkatkan biaya distribusi. Di saat yang sama, penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat masih menekan arus investasi ke negara berkembang.

WTP ke-12 Lampung: Kepercayaan Publik Menjadi Aset Pembangunan yang Paling Berharga

Lampung juga menghadapi tantangan dari sektor komoditas. Mulainya musim panen kopi robusta di Brasil berpotensi meningkatkan pasokan global dan menekan harga kopi dunia, salah satu komoditas penting bagi perekonomian daerah.

Meski demikian, ekonomi Lampung pada Triwulan I 2026 tetap tumbuh 5,58 persen (year-on-year), menjadikannya salah satu yang tertinggi di Sumatera.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 64,05 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan tumbuh 5,54 persen secara tahunan.

Sementara itu, investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 4,39 persen, menunjukkan aktivitas dunia usaha masih bergerak positif.

Dari sisi kesejahteraan, tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 turun menjadi 3,95 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

PSEL Lampung Raya Capai Skala Ekonomi, 1.168 Ton Sampah per Hari Siap Diubah Jadi Listrik

Lampung juga masih mencatatkan surplus perdagangan luar negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Lampung pada Maret 2026 surplus sebesar US$263,20 juta.

Meski ekspor mengalami kontraksi 21,10 persen secara bulanan, terutama akibat penurunan ekspor sektor industri pengolahan dan pertanian, terdapat sinyal menarik dari sisi impor.

Impor Lampung pada Maret meningkat 21,59 persen (month-to-month). Yang paling menonjol adalah lonjakan impor barang modal yang mencapai 694,39 persen.

Dalam perspektif ekonomi, peningkatan impor barang modal sering menjadi indikator bahwa pelaku usaha mulai memperluas kapasitas produksi dan mempersiapkan investasi baru.

Perubahan Iklim Tak Bisa Dilawan dengan Seremoni, Lampung Barat Dorong Gerakan Menanam Pohon

Artinya, dunia usaha masih memiliki optimisme terhadap prospek ekonomi Lampung ke depan.

Pendapatan Negara Tumbuh, Belanja Tetap Ngebut

Di tengah berbagai tantangan global tersebut, APBN tetap memainkan peran penting sebagai instrumen stabilisasi ekonomi.

Hingga 30 April 2026, realisasi Pendapatan Negara di Lampung mencapai Rp3,83 triliun atau 28,56 persen dari target. Angka tersebut tumbuh 5,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan penerimaan terutama ditopang Pajak Dalam Negeri yang mencapai Rp2,52 triliun dan tumbuh 26,04 persen secara tahunan.

Kinerja penerimaan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat, terutama pada sektor industri pengolahan dan perdagangan besar yang menjadi sumber utama penerimaan perpajakan.

Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga akselerasi belanja.

Realisasi Belanja Negara hingga April mencapai Rp9,91 triliun atau 35,56 persen dari pagu anggaran.

Pertumbuhan terutama berasal dari Belanja Pemerintah Pusat yang mencapai Rp2,85 triliun atau tumbuh 33,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut didorong percepatan belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal yang secara langsung berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi daerah.

Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp7,06 triliun, mengalami kontraksi 8,45 persen seiring penyesuaian kebijakan fiskal pemerintah.

Defisit yang Menjadi Instrumen Pertumbuhan

Hingga akhir April 2026, APBN regional Lampung mencatat defisit sebesar Rp6,08 triliun atau sekitar 42,05 persen dari target tahunan.

Namun defisit tersebut bukanlah indikasi pelemahan fiskal.

Dalam kebijakan fiskal modern, defisit sering digunakan sebagai instrumen untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, terutama ketika ketidakpastian global masih tinggi.

Dengan belanja yang lebih besar dibandingkan pendapatan pada periode tertentu, pemerintah dapat menjaga daya beli masyarakat, mendukung investasi, serta memastikan program pembangunan tetap berjalan.

Karena itu, di tengah berbagai tekanan global yang masih berlangsung, APBN tetap berfungsi sebagai bantalan ekonomi yang menjaga agar aktivitas ekonomi daerah tidak kehilangan momentum.

APBN Tetap Menjadi Penyangga

Kinerja ekonomi Lampung hingga April 2026 menunjukkan kombinasi yang relatif sehat.

Pertumbuhan ekonomi berada di atas lima persen. Tingkat pengangguran menurun. Konsumsi rumah tangga tetap kuat. Investasi masih tumbuh. Neraca perdagangan masih surplus. Pendapatan negara meningkat dan belanja pemerintah tetap ekspansif.

Tantangan global memang belum berakhir. Gejolak geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan ketidakpastian ekonomi dunia masih menjadi risiko yang harus diwaspadai.

Namun sejauh ini, APBN masih menjalankan fungsinya sebagai penyangga utama perekonomian daerah.

Di tengah ombak ketidakpastian global, fiskal negara tetap menjadi jangkar yang membantu menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Lampung.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer Bulan Ini

Opini & Insight

Daerah