BANDARLAMPUNG — Tahun ini jumlah siswa Lampung yang lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) mencapai 5.184 orang, naik 9,93 persen dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 4.669 siswa. Kenaikan ini menjadi salah satu capaian terbaik pendidikan menengah Lampung dalam beberapa tahun terakhir.
Namun bagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, Thomas Amirico, angka tersebut bukanlah garis akhir.
Justru sebaliknya.
Di balik kenaikan SNBT, Disdikbud Lampung sedang menyiapkan mekanisme evaluasi yang lebih sistematis terhadap sekolah, kepala sekolah, dan proses pembelajaran yang berlangsung di lapangan.
Evaluasi tidak lagi berhenti pada melihat siapa yang berhasil dan siapa yang tidak. Yang ingin dibaca adalah alasan di balik setiap capaian tersebut.
Karena itu, proses evaluasi akan melibatkan banyak lapisan, mulai dari sekolah, pengawas, Cabang Dinas Pendidikan, hingga bidang-bidang teknis di tingkat provinsi.
“Kita seriusi ini dengan koordinasi total dimulai dari sekolah sampai ke tim teknis di provinsi. Tujuannya agar kita bisa memperoleh informasi yang presisi mengenai hambatan dan kemajuan yang sudah dicapai sekolah sehingga jumlah lulusan SNBT terus meningkat dan merata,” kata Thomas.
Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah daerah terhadap data pendidikan.
Jika sebelumnya angka kelulusan lebih banyak berfungsi sebagai laporan capaian, kini data SNBT mulai diperlakukan sebagai instrumen manajemen pendidikan.
Sekolah yang menunjukkan peningkatan akan dipelajari faktor keberhasilannya. Sebaliknya, sekolah yang stagnan atau mengalami penurunan akan ditelusuri penyebabnya secara lebih mendalam.
Proses itu nantinya tidak hanya melihat hasil akhir berupa jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri.
Disdikbud ingin membaca lebih jauh kondisi pembelajaran di sekolah, pola pendampingan siswa, kualitas pengawasan akademik, hingga efektivitas strategi yang dijalankan kepala sekolah dan guru.
Dalam skema tersebut, kantor Cabang Dinas menjadi simpul penting karena berperan melakukan pengawasan dan pembinaan langsung terhadap sekolah-sekolah di wilayahnya.
Sementara bidang teknis di tingkat provinsi akan melakukan analisis data dan merumuskan rekomendasi tindak lanjut berdasarkan temuan di lapangan.
Model evaluasi berjenjang itu dinilai penting karena peta pendidikan Lampung saat ini semakin kompleks.
Data PTN 2026 menunjukkan sekolah-sekolah di luar pusat kota mulai tampil sebagai kekuatan baru. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung mencatat sejumlah sekolah daerah mampu menghasilkan tingkat penerimaan PTN yang sangat tinggi, bahkan mendekati atau menyamai sekolah-sekolah unggulan di perkotaan.
Fenomena tersebut membuat evaluasi tidak lagi cukup dilakukan dengan pendekatan seragam.
Sekolah yang berada di daerah dengan keterbatasan akses, karakteristik siswa berbeda, atau tantangan sosial tertentu memerlukan pembacaan yang lebih spesifik dibanding sekolah yang berada di pusat kota.
Karena itu, menurut Thomas, tujuan utama evaluasi bukan sekadar memberi penilaian terhadap kepala sekolah atau guru.
Yang lebih penting adalah menemukan hambatan nyata yang membuat suatu sekolah sulit meningkatkan capaian siswanya serta mengidentifikasi praktik-praktik baik yang bisa direplikasi ke sekolah lain.
Dengan pendekatan seperti itu, kenaikan jumlah lulusan PTN tidak dipandang sebagai keberhasilan sesaat.
Ia menjadi bahan baku untuk membangun sistem perbaikan yang berkelanjutan.
Sebab bagi Disdikbud Lampung, target berikutnya bukan hanya menambah jumlah siswa yang lolos SNBT pada 2027.
Target yang lebih besar adalah memastikan peningkatan itu tidak hanya terjadi di beberapa sekolah unggulan, melainkan menyebar lebih merata ke seluruh wilayah Lampung.(Ipta)

Komentar