Opini & Insight Hilirisasi
Beranda / Hilirisasi / Hilirisasi Lampung, Mengapa Daerah Kaya Komoditas Ini Belum Menjadi Prioritas Nasional?

Hilirisasi Lampung, Mengapa Daerah Kaya Komoditas Ini Belum Menjadi Prioritas Nasional?

Kantor Dinas Perkebunan Lampung

Ketika pemerintah pusat menggelontorkan Rp9,5 triliun untuk pengembangan perkebunan dan hilirisasi komoditas strategis nasional, perhatian publik Lampung seharusnya tidak hanya tertuju pada besarnya anggaran tersebut. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting,  mengapa daerah dengan kekuatan singkong, kopi, tebu, dan kelapa sebesar Lampung justru belum terlihat menjadi pusat agenda hilirisasi nasional?

Berita kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Sulawesi Tenggara sesungguhnya bukan hanya cerita tentang jutaan bibit kelapa dan kakao yang disiapkan pemerintah. Di balik itu terdapat pesan yang jauh lebih besar. Pemerintah pusat sedang bergerak menuju pembangunan ekonomi berbasis hilirisasi.

Artinya, fokus pembangunan tidak lagi berhenti pada peningkatan produksi komoditas. Yang dicari sekarang adalah bagaimana komoditas tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan industri, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan investasi.

Dalam konteks itu, Lampung seharusnya berada di barisan depan.

Provinsi ini menghasilkan lebih dari separuh produksi singkong nasional. Lampung juga merupakan salah satu sentra kopi terbesar Indonesia dan memiliki basis perkebunan tebu yang kuat. Dari sisi logistik, Lampung bahkan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain karena dekat dengan pasar terbesar nasional di Pulau Jawa.

PSEL Lampung Raya Capai Skala Ekonomi, 1.168 Ton Sampah per Hari Siap Diubah Jadi Listrik

Namun sampai hari ini, Hilirisasi Lampung belum menjadi narasi besar yang cukup kuat di tingkat nasional.

Padahal jika berbicara potensi, Lampung memiliki peluang menjadi pusat industri singkong nasional, pusat bioetanol berbasis tebu, hingga pusat pengolahan kopi terbesar di Indonesia. Potensi tersebut bukan sekadar peluang ekonomi daerah, melainkan peluang strategis nasional.

Masalahnya, selama bertahun-tahun keberhasilan sektor perkebunan lebih sering diukur dari produksi dan produktivitas. Ukuran tersebut memang penting, tetapi tidak lagi cukup. Daerah yang ingin maju harus mampu menunjukkan bagaimana hasil kebunnya diubah menjadi nilai tambah ekonomi.

Karena itu tantangan terbesar Hilirisasi Lampung saat ini bukan terletak pada petani atau komoditasnya. Tantangan terbesar justru berada pada kemampuan pemerintah daerah membangun agenda besar yang mampu menarik perhatian pusat dan investor.

Di sinilah peran Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian, Dinas Penanaman Modal, hingga pemerintah provinsi secara keseluruhan menjadi sangat penting. Lampung membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan produksi. Lampung membutuhkan peta jalan hilirisasi yang jelas, terukur, dan diperjuangkan secara serius ke tingkat nasional.

APBN Lampung Hingga April Tetap Ekspansif di Tengah Gejolak Global

Sebab dalam persaingan pembangunan saat ini, daerah yang memperoleh perhatian bukan selalu daerah yang memiliki komoditas terbesar. Perhatian justru datang kepada daerah yang mampu menawarkan visi paling jelas tentang masa depan komoditas tersebut.

Dan sampai hari ini, itulah pekerjaan rumah terbesar Hilirisasi Lampung.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer Bulan Ini

Opini & Insight

Daerah