Lampung resmi menjadi lokasi perdana pengembangan bioetanol nasional. Proyek ini menjadi langkah konkret hilirisasi Mirza, gubernur Lampung yang terus berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.
@IPTA
***
Ada perbedaan mendasar antara daerah yang hanya menghasilkan komoditas dan daerah yang menguasai nilai tambah. Yang pertama menjual hasil bumi. Yang kedua menjual masa depan. Dan, pada Selasa (9/6/2026), Provinsi Lampung tampaknya mulai melangkah ke arah yang kedua.
Di VIP Lounge Bandara Raden Inten II, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menandatangani deklarasi bersama pengembangan ekosistem bioetanol bersama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan PT Toyota Tsusho Indonesia.
Penandatanganan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun makna ekonominya jauh melampaui sebuah seremoni.
Dan harus menggarisbawahi, untuk pertama kalinya, pemerintah pusat menetapkan Lampung sebagai lokasi perdana pengembangan ekosistem bioetanol nasional yang akan menopang program campuran bahan bakar etanol 10 persen (E10) mulai 2028.
Peristiwa itu luar biasa, tersimpan pesan besar yang menegaskan bahwa Lampung mulai menapaki rel hilirisasi yang selama ini berulang kali digaungkan Gubernur Mirza.
Kutukan Daerah Penghasil Bahan Baku
Selama bertahun-tahun Lampung menghadapi paradoks ekonomi. Provinsi ini merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia, produsen tebu nomor dua nasional, serta masuk jajaran enam besar produksi padi dan jagung. Produksinya melimpah, dikirim petani ke berbagai pabrik atau industri. Namun sebagian besar keuntungan dari proses pengolahan justru tercipta di luar provinsi. Akibatnya, ketika produksi meningkat tajam, harga sering jatuh karena industri hilir tidak tumbuh secepat sektor hulunya.
Petani bekerja lebih keras. Produksi meningkat. Tetapi kesejahteraan tidak selalu bergerak sebanding.
Mirza tampaknya membaca persoalan itu sejak awal. Karena itu, hampir seluruh narasi pembangunan ekonomi yang dibawanya sejak menjabat selalu bermuara pada satu kata yang sama, hilirisasi.
“Hilirisasi bukan pilihan. Hilirisasi adalah keharusan jika kita ingin petani menikmati nilai tambah dari hasil produksinya sendiri,” demikian semangat yang berulang kali disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Dari Komoditas Menjadi Energi
Proyek bioetanol menjadi salah satu wujud paling konkret dari gagasan tersebut. Saya, bahkan telah menulis itu sejak tahun lalu, persisnya saat gelombang unjuk rasa petani singkong setelah Mirza dilantik menjadi gubernur.
Berbeda dengan pola lama yang hanya menjual bahan baku, bioetanol mengubah hasil pertanian menjadi energi.
Artinya, singkong, tebu, molase, hingga sorgum tidak lagi dipandang sebagai komoditas pertanian semata, melainkan sebagai bahan baku industri energi masa depan.
Dalam tahap awal, Pertamina NRE akan membangun pabrik bioetanol multi-feedstock di Lampung dengan investasi sekitar Rp340 miliar.
Pabrik berkapasitas 60 ribu kiloliter per tahun itu akan dibangun di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.
Pada fase awal, bahan baku berasal dari molase tebu.
Namun ke depan, pengembangan akan diarahkan pada sorgum dan berbagai sumber bahan baku lain melalui pendekatan bioetanol generasi kedua yang didukung riset Toyota Group. Ada potensi, lahan-lahan singkong beralih tanam ke sorgum yang berdasarkan riset lebih menguntungkan.
Yang menarik, pembangunan pabrik tidak dilakukan terpisah dari pengembangan bahan bakunya.
Lahan sorgum seluas hampir 5.000 hektare telah disiapkan di Natar, Lampung Selatan.
Penanaman bahkan dimulai bersamaan dengan pembangunan fasilitas produksi.
Model ini menunjukkan bahwa proyek tidak berhenti pada pembangunan fisik pabrik, tetapi dirancang sebagai sebuah ekosistem industri dari hulu hingga hilir.
Lampung Sedang Mengubah Posisi dalam Peta Ekonomi
Penunjukan Lampung sebagai lokasi perdana pengembangan bioetanol nasional bukanlah keputusan yang lahir secara kebetulan.
Lampung memiliki hampir seluruh prasyarat yang dibutuhkan. Lahan pertanian luas. Produksi komoditas melimpah. Akses pelabuhan tersedia. Jaringan jalan tol menghubungkan wilayah produksi dengan pasar nasional. Dan yang terpenting, Lampung memiliki sumber bahan baku yang berkelanjutan.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu bahkan menegaskan bahwa Lampung memiliki kekuatan multi-feedstock yang sulit ditandingi daerah lain.
Karena itu, pembangunan bioetanol bukan sekadar proyek energi. Ini adalah upaya mengubah posisi Lampung dalam rantai ekonomi nasional.
Dari pemasok bahan baku menjadi pusat pengolahan. Dari daerah produsen menjadi daerah pencipta nilai tambah.
Awal dari Babak yang Lebih Besar
Tentu satu pabrik bioetanol tidak akan mengubah wajah ekonomi Lampung dalam semalam.
Namun sejarah pembangunan sering dimulai dari satu keputusan yang tepat.
Yang membuat proyek ini penting bukan semata nilai investasinya. Melainkan arah yang ditunjukkannya.
Selama ini, hilirisasi sering berhenti sebagai slogan.
Kini satu per satu mulai bergerak menjadi proyek nyata.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, konstruksi dimulai Agustus 2026 dan operasi komersial berlangsung pada 2028, maka Lampung tidak hanya akan memasok pangan bagi Indonesia.
Lampung akan mulai memasok energi.
Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hasil bumi Lampung tidak lagi sekadar keluar sebagai komoditas mentah, melainkan kembali ke pasar sebagai produk bernilai tambah tinggi.
Di situlah makna sebenarnya dari hilirisasi. Bukan sekadar membangun pabrik. Tetapi mengubah cara sebuah daerah memperoleh kemakmuran.(ipta)

Komentar