Kadisdikbud Lampung Thomas Amirico menegaskan sekolah yang gagal meningkatkan jumlah lulusan PTN akan dievaluasi. Hasil seleksi masuk perguruan tinggi kini mulai dijadikan ukuran kinerja pendidikan.
BANDARLAMPUNG — Selama bertahun-tahun, dunia pendidikan terbiasa merayakan angka kelulusan. Semakin banyak siswa diterima di perguruan tinggi negeri (PTN), semakin besar pula rasa bangga yang muncul.
Namun di Lampung, angka kelulusan PTN kini tampaknya akan memiliki makna yang berbeda.
Bukan lagi sekadar statistik keberhasilan siswa, melainkan mulai diposisikan sebagai instrumen evaluasi bagi kepala sekolah dan guru.
Sinyal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menyusul peningkatan jumlah siswa SMA di Lampung yang diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
“Alhamdulillah, capaian kita tahun ini naik signifikan. Namun kita harus pacu angkanya lebih besar pada 2027. Yang gagal, kita evaluasi,” kata Thomas.
Pernyataan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun jika dicermati lebih dalam, pesan yang dikandungnya cukup besar.
Untuk pertama kalinya, hasil penerimaan PTN mulai ditempatkan sebagai ukuran nyata kinerja sekolah.
Selama ini keberhasilan sekolah sering kali diukur melalui indikator administratif, kelengkapan dokumen, serapan program, kepatuhan terhadap regulasi, hingga laporan-laporan birokrasi yang harus diselesaikan setiap tahun.
Kini arah kebijakannya mulai bergeser.
Fokusnya bukan lagi semata pada apa yang dikerjakan sekolah, melainkan apa yang berhasil dicapai siswa.
Perubahan paradigma itu sebenarnya sudah terlihat dalam berbagai langkah yang ditempuh Disdikbud Lampung selama setahun terakhir. Thomas berulang kali menekankan pentingnya peningkatan mutu akademik, penguatan kemampuan berpikir kritis siswa, hingga pembiasaan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk meningkatkan daya saing peserta didik.
Bahkan dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa kepala sekolah harus berorientasi pada prestasi siswa dan tidak terjebak dalam rutinitas administratif semata.
Karena itu, kenaikan jumlah siswa yang diterima PTN tahun ini dapat dibaca sebagai awal lahirnya standar baru dalam pendidikan Lampung.
Standar tersebut sederhana, tetapi tidak mudah.
Jika sebuah sekolah mampu meningkatkan jumlah siswanya yang diterima PTN, maka strategi pembelajaran, kepemimpinan kepala sekolah, budaya akademik, dan kinerja guru dianggap bergerak ke arah yang benar.
Sebaliknya, jika capaian terus stagnan atau bahkan menurun, maka ada ruang evaluasi yang harus dilakukan.
Pendekatan seperti ini lazim digunakan dalam manajemen modern.
Yang dinilai bukan hanya aktivitas, tetapi hasil akhir.
Bukan sekadar program berjalan, melainkan apakah program itu menghasilkan perubahan.
Tentu saja jumlah siswa yang diterima PTN bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Tidak semua lulusan SMA harus kuliah. Sebagian memilih pendidikan vokasi, dunia kerja, kewirausahaan, atau jalur karier lainnya.
Namun bagi SMA yang memang dirancang sebagai jalur akademik menuju pendidikan tinggi, angka penerimaan PTN tetap menjadi salah satu indikator paling konkret untuk mengukur daya saing lulusan.
Terlebih, Thomas sebelumnya juga pernah menyoroti masih rendahnya angka lulusan yang melanjutkan pendidikan tinggi di sejumlah wilayah dan menjadikannya sebagai perhatian khusus dalam pembinaan sekolah.
Karena itu, pesan yang muncul dari capaian SNBT 2026 sesungguhnya bukan soal bertambahnya jumlah siswa yang lolos seleksi.
Cerita yang lebih besar adalah perubahan cara pemerintah melihat keberhasilan sekolah.
Jika konsisten diterapkan, kepala sekolah tidak lagi cukup menjadi pengelola administrasi.
Guru tidak lagi hanya dituntut menuntaskan materi pembelajaran.
Keduanya akan menghadapi ukuran yang lebih sederhana sekaligus lebih menantang. Apakah siswa mereka memiliki peluang yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Dan ketika ukuran keberhasilan mulai bergeser dari laporan menuju hasil, maka evaluasi bukan lagi sekadar mekanisme birokrasi.
Evaluasi berubah menjadi alat untuk memastikan bahwa setiap sekolah benar-benar menghasilkan perubahan bagi masa depan siswanya.(IPTA)

Komentar