Pertanian
Beranda / Pertanian / Petani Lampung Mendadak Lebih Kaya, Tapi Hidup Mereka Juga Makin Mahal

Petani Lampung Mendadak Lebih Kaya, Tapi Hidup Mereka Juga Makin Mahal

NTP Provinsi Lampung Mei 2026 sebesar 128,01 atau naik 3,29 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Peningkatan NTP disebabkan oleh It mengalami kenaikan sebesar 4,35 persen, lebih tinggi dari kenaikan Ib sebesar 1,02 persen.

NTP Melonjak ke 128,01, Kenaikan Harga Pangan Ternyata Menguntungkan Sebagian Petani

BANDARLAMPUNG — Mei 2026 menghadirkan ironi yang menarik bagi ekonomi Lampung. Di pasar, masyarakat mengeluhkan harga cabai, tomat, beras, dan berbagai kebutuhan pangan yang terus naik. Namun bagi sebagian petani, kenaikan harga tersebut justru menjadi kabar baik.

Setelah empat bulan berturut-turut melemah, Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung akhirnya melonjak 3,29 persen menjadi 128,01.

Kenaikan ini menunjukkan pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluaran yang harus mereka keluarkan.

Dalam bahasa sederhana, petani memperoleh uang lebih banyak dari hasil panennya dibanding tambahan biaya yang harus mereka bayar.

Namun cerita itu ternyata tidak sesederhana angka NTP.

Surplus Perdagangan Lampung Makin Gemuk, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Data BPS memperlihatkan biaya hidup rumah tangga petani di Lampung juga naik 1,14 persen hanya dalam satu bulan. Kenaikan tersebut menempatkan Lampung sebagai daerah dengan lonjakan biaya konsumsi petani terbesar kelima di Indonesia selama Mei 2026.

Penyebabnya sama dengan yang dirasakan masyarakat umum. Harga makanan dan minuman naik 1,56 persen, biaya transportasi naik 1,12 persen, sementara biaya perumahan, listrik, dan bahan bakar rumah tangga meningkat 0,88 persen.

Dengan kata lain, petani memang menjual hasil panennya lebih mahal, tetapi mereka juga harus membeli kebutuhan hidup dengan harga yang lebih mahal.

Paradoks ini terlihat jelas pada subsektor hortikultura.

Nilai Tukar Petani Hortikultura melonjak fantastis hingga 17,58 persen dalam satu bulan. Kenaikan terbesar berasal dari sayur-sayuran yang harga jualnya melesat lebih dari 30 persen.

Sedikit Membeli BBM dari Luar Negeri, Lampung Kini Lebih Banyak Membeli Alat Produksi

Tomat menjadi komoditas utama yang mengangkat kesejahteraan petani. Cuaca buruk menyebabkan pasokan menyusut sehingga harga di tingkat petani ikut terdorong naik.

Apa yang dirasakan konsumen sebagai “mahal”, pada saat yang sama menjadi sumber keuntungan bagi petani.

Situasi serupa terjadi pada perkebunan rakyat. Harga kakao yang terus menguat akibat tingginya permintaan domestik dan global mendorong NTP perkebunan mencapai 159,03, tertinggi di antara seluruh subsektor pertanian Lampung.

Menjelang Iduladha, peternak juga menikmati kenaikan harga sapi yang membuat NTP peternakan kembali menembus angka 100.

Namun keberuntungan itu tidak dinikmati semua pelaku pangan.

Sawit Menahan Laju Penurunan Ekspor Lampung di Tengah Kejatuhan Kopi dan Rempah

Nelayan justru mengalami penurunan daya tukar sebesar 2,13 persen. Pembudidaya ikan turun 1,36 persen.

Semua gegara harga kakap dan bandeng melemah karena pasokan melimpah saat hasil tangkapan dan panen meningkat. Akibatnya, pendapatan mereka turun ketika biaya hidup tetap naik.

Di sinilah wajah asli sektor pangan Lampung terlihat.

Ketika harga pangan naik, masyarakat kota merasakan tekanan pengeluaran yang lebih besar. Sebagian petani memperoleh keuntungan lebih tinggi. Tetapi nelayan dan pembudidaya ikan belum tentu ikut menikmatinya.

Karena itu, kenaikan NTP Mei 2026 sesungguhnya bukan sekadar kabar baik tentang membaiknya kesejahteraan petani.

Tetapi juga menjadi pengingat bahwa kenaikan harga pangan selalu menciptakan dua cerita sekaligus. Ada kelompok yang memperoleh manfaat, dan ada kelompok lain yang harus membayar lebih mahal. Namun, apa pun keadaanya, kenaikkan NTP Mei 2026 patut disyukuri. Semoga bulan-bulan berikutnya  naik lagi. (ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *