Bandar Lampung – Selama puluhan tahun, Pulau Sumatra menjadi salah satu motor utama ekonomi Indonesia. Dari sawit, batu bara, karet, kopi, hingga berbagai komoditas perkebunan dan pertanian lainnya, sebagian besar bergerak melalui jalan raya dan pelabuhan yang tersebar di berbagai daerah.
Namun di balik peran strategis tersebut, Sumatra masih menghadapi satu persoalan mendasar: belum memiliki jaringan kereta api yang tersambung dari ujung utara hingga ujung selatan pulau.
Kondisi itulah yang kini ingin diubah pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melalui rencana pembangunan jaringan rel yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan pengembangan jaringan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan konektivitas perkeretaapian yang terintegrasi di Pulau Sumatra.
Menurut Bobby, jalur kereta api yang ada saat ini masih berdiri sendiri-sendiri dan belum membentuk satu koridor transportasi yang utuh.
“Kalau kita lihat yang existing sekarang itu hanya sepotong-sepotong. Dari Bandar Lampung sampai Palembang, kemudian sampai Lubuk Linggau. Dari Medan juga sedikit, dari Padang juga sedikit,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI.
Akibatnya, mobilitas barang dan manusia di Sumatra masih sangat bergantung pada transportasi jalan. Padahal, sebagai pulau dengan basis produksi komoditas terbesar di Indonesia, kebutuhan konektivitas yang efisien menjadi semakin penting untuk menekan biaya logistik dan memperkuat daya saing ekonomi kawasan.
Sebagai langkah awal, KAI memprioritaskan pembangunan jalur Banda Aceh–Besitang sepanjang sekitar 478 kilometer. Saat ini perusahaan tengah menyiapkan Detail Engineering Design (DED) sebagai tahap awal perencanaan proyek.
Secara keseluruhan, kebutuhan investasi untuk menghubungkan jaringan rel dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung diperkirakan mencapai US$20 miliar hingga US$25 miliar, atau sekitar Rp358 triliun hingga Rp448 triliun dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.
Nilai investasi tersebut memang tidak kecil. Namun yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya jalur kereta api, melainkan fondasi konektivitas ekonomi jangka panjang bagi Sumatra.
Bagi Lampung, proyek ini memiliki arti tersendiri. Sebagai gerbang Sumatra menuju Pulau Jawa, Lampung berpotensi menjadi simpul akhir sekaligus titik distribusi utama dalam jaringan rel lintas Sumatra. Jika terwujud, arus barang dari berbagai wilayah di Sumatra dapat terhubung lebih efisien menuju pelabuhan dan pusat-pusat ekonomi nasional.
Rencana tersebut masih berada pada tahap awal dan membutuhkan waktu panjang untuk direalisasikan. Namun gagasan menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung melalui satu jaringan rel menunjukkan perubahan cara pandang terhadap pembangunan infrastruktur: tidak lagi sekadar membangun ruas per ruas, melainkan membentuk satu sistem yang mampu menyatukan ruang ekonomi Sumatra secara lebih utuh.(ipta)

Komentar