Ekonomi Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Ketika Biaya Sekolah Tak Lagi Membebani Rumah Tangga, Inflasi Lampung Pun Tak Kuat Menanjak

Ketika Biaya Sekolah Tak Lagi Membebani Rumah Tangga, Inflasi Lampung Pun Tak Kuat Menanjak

Inflasi Lampung tak kuat nanjak lantaran deflasi pendidikan sejak uang komite dihapuskan

Setiap kali harga cabai naik, orang ramai membicarakannya.

Ketika beras naik, media menuliskannya. Saat minyak goreng mahal, masyarakat mengeluhkannya. Bahkan kenaikan beberapa ratus rupiah pada kebutuhan dapur sering menjadi percakapan dari warung kopi hingga ruang rapat pemerintah.

Namun ada satu hal yang jarang menjadi berita besar, yakni ketika pengeluaran keluarga justru turun.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menyimpan cerita menarik itu.

Pada Mei 2026, inflasi tahunan Lampung tercatat 1,94 persen. Angka tersebut sebenarnya menunjukkan tekanan harga masih terjadi. Cabai rawit, cabai merah, beras, minyak goreng, daging ayam ras hingga biaya transportasi tetap mengalami kenaikan.

SMAN 12 Bandar Lampung Tembus Tiga Besar Kelulusan PTN, 244 Siswa Lanjut ke Kampus Dalam dan Luar Negeri

Tetapi ada sesuatu yang bekerja diam-diam di balik angka tersebut.

Kelompok pendidikan mengalami deflasi hingga 17,97 persen dan menjadi faktor terbesar yang menahan laju inflasi Lampung. Bahkan kontribusi penurunan dari sektor pendidikan mencapai 1,19 persen, jauh lebih besar dibanding banyak kelompok pengeluaran lainnya.

Artinya sederhana.

Saat harga-harga kebutuhan pokok bergerak naik, beban yang harus ditanggung keluarga untuk menyekolahkan anak justru bergerak turun.

Ini bukan sekadar statistik.

Sumatra Segera Terkoneksi, KAI Siapkan Jalur Rel dari Aceh hingga Lampung

Ini adalah perubahan struktur pengeluaran rumah tangga.

Selama bertahun-tahun, pendidikan sering dianggap investasi masa depan sekaligus sumber pengeluaran yang tidak ringan. Banyak keluarga harus membagi pendapatan bulanan antara kebutuhan dapur dan kebutuhan sekolah anak.

Karena itu, ketika biaya pendidikan turun, dampaknya tidak berhenti di ruang kelas.

Ia merambat ke dapur.

Ia masuk ke perhitungan ekonomi keluarga.

Surplus Perdagangan Lampung Makin Gemuk, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ia memengaruhi kemampuan masyarakat menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Data BPS menunjukkan penurunan terbesar terjadi pada pendidikan menengah. Deflasi pada kelompok ini bahkan mencapai lebih dari 50 persen secara tahunan.

Fakta itu membuat inflasi Lampung memiliki cerita yang berbeda dibanding banyak daerah lain.

Biasanya inflasi rendah terjadi karena harga pangan terkendali. Namun di Lampung, harga pangan justru masih memberi tekanan cukup kuat. Yang membuat inflasi tetap rendah adalah berkurangnya biaya pendidikan yang harus dibayar masyarakat.

Dengan kata lain, pendidikan telah berubah dari komponen pengeluaran menjadi bantalan ekonomi keluarga.

Di sinilah makna yang sering luput dibaca dari sebuah kebijakan pendidikan.

Keberhasilan pendidikan tidak selalu tampak dari gedung sekolah baru, jumlah siswa berprestasi, atau banyaknya lulusan yang diterima perguruan tinggi. Kadang dampaknya muncul dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: orang tua memiliki ruang bernapas yang lebih lega dalam mengatur keuangan rumah tangga.

Karena itu, cerita inflasi Lampung bulan Mei sesungguhnya bukan hanya tentang cabai yang mahal atau beras yang naik.

Ini adalah cerita tentang bagaimana biaya sekolah yang lebih ringan mampu menahan tekanan biaya hidup masyarakat.

Dan mungkin, di tengah banyaknya perdebatan mengenai pendidikan, inilah pengingat yang penting, bahwa sekolah bukan hanya tempat membangun masa depan anak-anak.

Sekolah juga bisa menjadi salah satu cara menjaga kesejahteraan keluarga hari ini.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *