Opini & Insight Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Bukan Lagi Administrasi, Gubernur dan Kadisdikbud Lampung Sepakat Tempuh Arah Baru Dunia Pendidikan

Bukan Lagi Administrasi, Gubernur dan Kadisdikbud Lampung Sepakat Tempuh Arah Baru Dunia Pendidikan

Selama bertahun-tahun, ukuran keberhasilan sekolah sering kali berhenti pada laporan, dokumen, dan tumpukan administrasi. Kini arah itu mulai berubah.

@IPTAVERITAS

Pemerintah Provinsi Lampung sedang membangun cara pandang baru dalam dunia pendidikan, di mana sekolah tidak lagi dinilai dari seberapa rapi berkas yang disusun, melainkan dari seberapa jauh mereka mampu mengubah masa depan peserta didiknya.

Pesan itu disampaikan secara terbuka oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka Evaluasi Program dan Kinerja serta Penyusunan Rencana Strategis Tahun 2027 bagi SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Lampung, Kamis (4/6/2026).

Di hadapan ratusan kepala sekolah, Mirza mengeluarkan pernyataan yang sekaligus menjadi arah baru pembangunan daerah.

SMAN 12 Bandar Lampung Tembus Tiga Besar Kelulusan PTN, 244 Siswa Lanjut ke Kampus Dalam dan Luar Negeri

“Masa depan Provinsi Lampung itu bukan di tangan kantor Gubernur Lampung atau Dinas Pendidikan. Masa depan Lampung ada di ruang kelas Bapak dan Ibu sekalian,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana.ย Namun jika ditarik ke berbagai kebijakan pendidikan yang muncul dalam beberapa bulan terakhir, pernyataan tersebut sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih besar, bahwaย Lampung sedang memindahkan pusat pembangunan dari birokrasi menuju sekolah.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah siswa Lampung yang diterima di perguruan tinggi negeri naik hampir 10 persen dibanding tahun sebelumnya.

Data tersebut tidak berhenti sebagai bahan publikasi.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung telah memastikan hasil SNBT akan menjadi salah satu instrumen evaluasi sekolah. Kepala sekolah, guru, cabang dinas, hingga bidang teknis akan terlibat dalam proses pembacaan data untuk melihat faktor yang membuat suatu sekolah berhasil atau tertinggal.

Sumatra Segera Terkoneksi, KAI Siapkan Jalur Rel dari Aceh hingga Lampung

Dengan kata lain, angka-angka mulai berbicara.

Sekolah tidak lagi cukup mengatakan dirinya berhasil.

Keberhasilan harus terlihat dalam data.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Thomas Amirico bahkan menegaskan bahwa capaian pendidikan harus sesuai fakta, sesuai metadata, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pernyataan tersebut menandai perubahan penting.

Sawit Menahan Laju Penurunan Ekspor Lampung di Tengah Kejatuhan Kopi dan Rempah

Untuk pertama kalinya, capaian pendidikan mulai diperlakukan sebagai indikator kinerja yang dapat diukur secara objektif.

Jika siswa lebih banyak diterima di perguruan tinggi negeri, itu tercatat.

Jika angka putus sekolah menurun, itu tercatat.

Jika kualitas layanan meningkat, itu juga tercatat.

Sebaliknya, jika tidak terjadi kemajuan, data akan menunjukkan hal yang sama.

Di titik inilah pidato Gubernur Mirza menemukan konteksnya.

Ketika ia mengatakan masa depan Lampung berada di ruang kelas, yang dimaksud bukan sekadar pentingnya peran guru.

Yang dimaksud adalah bahwa keberhasilan pembangunan daerah akan semakin bergantung pada kualitas hasil yang lahir dari sekolah.

Lampung selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekuatan pertanian, perkebunan, dan sumber daya alam yang besar.

Namun Mirza mengingatkan bahwa sejarah dunia menunjukkan kemajuan tidak pernah ditentukan oleh kekayaan alam semata.

Banyak daerah kaya tetap tertinggal.

Sebaliknya, banyak wilayah dengan sumber daya terbatas justru melompat jauh karena memiliki manusia yang unggul.

Karena itu, pertarungan masa depan Lampung sesungguhnya tidak sedang terjadi di pasar komoditas, kantor pemerintahan, atau ruang rapat pembangunan.

Pertarungan itu sedang berlangsung setiap hari di dalam kelas-kelas sekolah.

Di sana kualitas guru diuji.

Kepemimpinan kepala sekolah diuji.

Kemampuan sistem pendidikan diuji.

Dan dari sana pula masa depan daerah sedang dibentuk.

Karena itulah rapat pendidikan yang digelar pekan ini sebenarnya lebih dari sekadar agenda evaluasi tahunan.

Ia menandai lahirnya fase baru pendidikan Lampung.

Fase ketika data tidak lagi menjadi arsip.

Melainkan menjadi alat ukur.

Fase ketika prestasi tidak lagi dipahami sebagai penghargaan seremonial.

Melainkan sebagai indikator kinerja.

Dan fase ketika sekolah tidak lagi dinilai dari banyaknya administrasi yang selesai dikerjakan, tetapi dari berapa banyak masa depan yang berhasil mereka buka bagi anak-anak Lampung.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *