Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Sawit Menahan Laju Penurunan Ekspor Lampung di Tengah Kejatuhan Kopi dan Rempah

Sawit Menahan Laju Penurunan Ekspor Lampung di Tengah Kejatuhan Kopi dan Rempah

Nilai Ekspor Sepuluh Golongan Barang Utama Nonmigas Provinsi Lampung, Januari-April 2026. (BPS Lampung)

Bandar Lampung – Ekspor sektor pertanian Lampung kehilangan devisa US$209 juta hanya dalam empat bulan pertama 2026. Namun di tengah tekanan tersebut, kenaikan ekspor komoditas berbasis sawit dan turunannya membantu menahan penurunan ekspor Lampung agar tidak jatuh lebih dalam.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menunjukkan nilai ekspor sektor pertanian sepanjang Januari-April 2026 hanya mencapai US$228,34 juta, turun 47,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$437,34 juta.

Penurunan tajam itu terutama terjadi bersamaan dengan merosotnya ekspor kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah. Nilai ekspor komoditas tersebut turun dari US$429,91 juta pada Januari-April 2025 menjadi US$221,86 juta pada Januari-April 2026, atau berkurang US$208,05 juta.

Besarnya penurunan ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah hampir setara dengan penurunan total ekspor sektor pertanian yang mencapai US$209 juta.

Di sisi lain, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati, yang didominasi produk berbasis sawit dan turunannya, justru mencatat pertumbuhan positif. Nilai ekspornya meningkat dari US$783,18 juta menjadi US$889,42 juta, atau bertambah US$106,24 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sumatra Segera Terkoneksi, KAI Siapkan Jalur Rel dari Aceh hingga Lampung

Kenaikan tersebut menjadikan kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati sebagai penyumbang terbesar ekspor Lampung dengan kontribusi 47,17 persen terhadap total ekspor daerah.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Lampung selama Januari-April 2026 tercatat US$1,885 miliar, turun 2,09 persen dibandingkan Januari-April 2025 yang mencapai US$1,926 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun sektor pertanian mengalami tekanan berat, pertumbuhan ekspor kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati turut membantu mengurangi dampak penurunan yang berasal dari komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah.

Selain itu, sektor industri pengolahan juga terus memperkuat perannya sebagai mesin utama ekspor Lampung. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$1,382 miliar, naik 12,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,233 miliar.

Sementara sektor pertambangan dan lainnya tumbuh 7,50 persen, dari US$255,18 juta menjadi US$274,31 juta.

Surplus Perdagangan Lampung Makin Gemuk, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Perubahan tersebut tercermin dalam struktur ekspor Lampung. Pada Januari-April 2026, sektor industri pengolahan menyumbang 73,34 persen dari total ekspor daerah, meningkat dari 64,04 persen pada tahun sebelumnya. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian turun dari 22,71 persen menjadi 12,11 persen.

Dengan kata lain, ekspor Lampung kini semakin bergantung pada produk hasil pengolahan dan komoditas berbasis sawit, sementara kontribusi komoditas perkebunan tradisional seperti kopi dan rempah mengalami pelemahan signifikan.

Meski secara kumulatif masih menurun, kinerja ekspor Lampung mulai menunjukkan perbaikan pada April 2026. Nilai ekspor bulan tersebut mencapai US$504,59 juta, naik 43,29 persen dibandingkan April 2025 yang sebesar US$352,16 juta, serta meningkat 29,91 persen dibandingkan Maret 2026.

Selama Januari-April 2026, tiga negara tujuan ekspor terbesar Lampung adalah Amerika Serikat dengan nilai US$290,01 juta, Tiongkok sebesar US$234,92 juta, dan Pakistan senilai US$175,84 juta.

Di tengah tekanan pada sektor pertanian, Lampung masih membukukan surplus perdagangan yang kuat. Selama Januari-April 2026, neraca perdagangan provinsi ini tercatat surplus US$1,396 miliar, ditopang surplus sektor nonmigas sebesar US$1,431 miliar.(ipta)

Sedikit Membeli BBM dari Luar Negeri, Lampung Kini Lebih Banyak Membeli Alat Produksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *