Ekonomi Hilirisasi Opini & Insight
Beranda / Opini & Insight / Bioetanol Singkong Lampung Bisa Jadi Mesin Baru Ekonomi Daerah, Mengapa BUMD Harus Memulai Sekarang?

Bioetanol Singkong Lampung Bisa Jadi Mesin Baru Ekonomi Daerah, Mengapa BUMD Harus Memulai Sekarang?

Bioetanol Singkong Lampung
Ilustrasi

Bioetanol Singkong Lampung berpotensi menjadi motor hilirisasi daerah. Pabrik berkapasitas 100 ton per hari dapat menyerap singkong petani senilai Rp66 miliar per tahun, menghasilkan 5,94 juta liter bioetanol, dan mendukung program E10 nasional. BUMD seharusnya mampu membangun bisnis ini, paling tidak mencobanya dalam skala terbatas. Pembiayannya relatif murah dan mampu disokong APBD.

@ipta

Lampung selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu produsen singkong terbesar di Indonesia. Namun hingga hari ini, sebagian besar singkong masih dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang sangat terbatas.

Ketika harga singkong berada di kisaran Rp2.000 per kilogram, satu ton singkong hanya bernilai Rp2.000.000. Setelah keluar dari kebun petani, sebagian besar nilai ekonomi berikutnya justru dinikmati oleh industri pengolahan di tempat lain.

Padahal dunia sedang bergerak ke arah yang berbeda.

Setelah Pesta Babi, Terbit Pesta Panen, Lampung Bisa Jadi Pemain Utamanya

Pemerintah pusat mulai menyiapkan implementasi bahan bakar campuran bioetanol atau E10, yaitu bensin yang mengandung 10 persen bioetanol. Kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan akan meningkat seiring kebijakan transisi energi dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Di sinilah Lampung memiliki peluang yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Pertanyaannya bukan lagi apakah singkong bisa diolah menjadi bioetanol. Teknologinya sudah tersedia dan telah diterapkan di berbagai negara.

Pertanyaan yang lebih penting adalahย Apakah Lampung ingin terus menjual singkong mentah, atau mulai menjual energi?

Mengapa BUMD Harus Memulai Sekarang?

Selama ini diskusi hilirisasi sering berhenti pada satu kalimat,ย “Kita tunggu investor.”

Sekolah Bukan Pabrik Ijazah: Saatnya Lampung Memulai Hilirisasi Pendidikan

Padahal sejarah menunjukkan investor biasanya datang ketika sebuah model bisnis sudah terbukti berjalan.

Jika semua daerah menunggu investor, maka tidak ada yang memulai.

Karena itu, justru Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) perlu mengambil peran sebagai pionir.

BUMD tidak harus langsung membangun industri raksasa. Yang dibutuhkan adalah membangun proyek percontohan yang membuktikan bahwa singkong Lampung mampu diubah menjadi bioetanol dengan nilai tambah yang menguntungkan petani dan daerah.

Jika proyek awal berhasil, investor akan datang dengan sendirinya.

Rupiah dan IHSG Menguat, Apakah Ekonomi Indonesia Sudah Benar-Benar Aman?

Tetapi jika Lampung terus menunggu, maka peluang akan diambil daerah lain yang lebih dahulu membangun kapasitas industri bioetanol.

Simulasi Pabrik Bioetanol 100 Ton Singkong per Hari

Sebagai gambaran, mari menggunakan skenario konservatif.

Pabrik mengolah 100 ton singkong per hariย atauย 100.000 kilogram singkong per hari

Dengan harga singkong Rp2.000 per kilogram, maka kebutuhan pembelian bahan baku mencapaiย Rp200.000.000 per hari

Dalam setahun, dengan asumsi operasi 330 hariย Rp66.000.000.000 per tahun

Angka ini sangat penting.

Karena sebelum berbicara soal laba pabrik, pabrik tersebut langsung menciptakan pasar permanen bagi petani singkong Lampung senilai enam puluh enam miliar rupiah setiap tahun.

Artinya, ada pembeli tetap yang menyerap hasil panen petani setiap hari.

Inilah manfaat terbesar hilirisasi.

Dari Singkong Menjadi Energi

Dengan rendemen konservatif sekitar 180 liter etanol per ton singkong, makaย 100 ton singkongย menghasilkan: 18.000 liter bioetanol per hariย atauย 5.940.000 liter per tahun

Produksi sebesar ini sudah cukup untuk menjadi bagian dari rantai pasok program bioetanol nasional.

Struktur Biaya Produksi

Pembelian Singkong

Rp200.000.000 per hari

Enzim dan Ragi

Rp8.000.000 per hari

Energi

Boiler, listrik, pompa, destilasi

Rp12.000.000 per hari

Air dan Pengolahan Limbah

Rp2.500.000 per hari

Tenaga Kerja

29 pekerja operasional

Rp5.000.000 per hari

Pemeliharaan Mesin

Rp3.500.000 per hari

Logistik Internal

Rp2.000.000 per hari

Administrasi dan Overhead

Rp2.500.000 per hari

Penyusutan Investasi Pabrik

Asumsi investasi awal:

Rp80.000.000.000

Penyusutan:

Rp14.600.000 per hari

Total Biaya Produksi

Rp250.100.000 per hari

Dengan produksi 18.000 liter per hari, diperoleh:

Harga Pokok Produksi (HPP)

Rp13.900 per liter

Potensi Pendapatan

Dengan asumsi harga jual etanol industri sebesar Rp24.000 per liter:

Pendapatan harianย Rp432.000.000

Pendapatan tahunanย Rp142.560.000.000

Setelah dikurangi biaya produksi:

Potensi laba operasional:ย Rp181.900.000 per hariย atau sekitarย Rp60.027.000.000 per tahun

Tetapi Laba Bukan Alasan Utamanya

Di sinilah sering terjadi kesalahan cara pandang.

Bagi swasta, laba Rp60 miliar per tahun mungkin menjadi alasan utama.

Namun bagi pemerintah daerah, manfaat terbesar justru berada di luar neraca keuangan perusahaan.

Pabrik bioetanol akan menciptakan:

  • pasar tetap bagi petani singkong;
  • stabilisasi harga saat panen raya;
  • lapangan kerja baru;
  • peningkatan nilai tambah di daerah;
  • sumber pendapatan BUMD;
  • fondasi industri energi terbarukan Lampung.

Dengan kata lain, keuntungan terbesar bukan hanya yang masuk ke kas perusahaan, melainkan uang yang tetap berputar di Lampung.

Lampung Sedang Memiliki Momentum

Saat ini Indonesia sedang memasuki era hilirisasi.

Pemerintah pusat mendorong nilai tambah mineral, sawit, hingga energi baru terbarukan.

Lampung memiliki satu komoditas yang sudah tersedia dalam jumlah besar: singkong.

Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah proyek bioetanol layak dijalankan.

Pertanyaannya adalah siapa yang lebih dulu memulainya.

Jika BUMD Lampung berani memulai sekarang, maka daerah ini berpeluang menjadi pionir bioetanol berbasis singkong di Indonesia.

Namun jika terus menunggu investor, Lampung berisiko kembali menjadi pemasok bahan mentah sementara nilai tambah dan industrinya tumbuh di daerah lain.

Hilirisasi selalu dimulai oleh keberanian mengambil langkah pertama.

Dan untuk singkong Lampung, langkah pertama itu seharusnya dimulai sekarang.

Struktur Biaya Produksi Bioetanol Singkong Kapasitas 100 Ton/Hari

Komponen Biaya Nilai per Hari Biaya per Liter
Pembelian Singkong (100 ton x Rp2.000/kg) Rp200.000.000 Rp11.111
Enzim dan Ragi Rp8.000.000 Rp444
Energi (Boiler, Listrik, Destilasi) Rp12.000.000 Rp667
Air Proses dan Pengolahan Limbah Rp2.500.000 Rp139
Tenaga Kerja Operasional Rp5.000.000 Rp278
Pemeliharaan Mesin dan Sparepart Rp3.500.000 Rp194
Logistik Internal Rp2.000.000 Rp111
Administrasi dan Overhead Rp2.500.000 Rp139
Penyusutan Investasi Pabrik Rp14.600.000 Rp811
TOTAL HPP Rp250.100.000 Rp13.894

Produksi dan Pendapatan

Uraian Nilai
Kapasitas Singkong 100 ton/hari
Produksi Bioetanol 18.000 liter/hari
Harga Jual Etanol (asumsi) Rp24.000/liter
Pendapatan Harian Rp432.000.000
Biaya Produksi Harian Rp250.100.000
Laba Operasional Harian Rp181.900.000
Laba Operasional Tahunan (330 hari operasi) Rp60.027.000.000

Dampak Ekonomi Langsung bagi Lampung

Uraian Nilai
Serapan Singkong 100 ton/hari
Serapan Singkong Tahunan 33.000 ton
Pembelian Singkong dari Petani per Hari Rp200.000.000
Pembelian Singkong dari Petani per Tahun Rp66.000.000.000
Produksi Bioetanol Tahunan 5.940.000 liter
Potensi Pendapatan Industri per Tahun Rp142.560.000.000

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer Bulan Ini

Opini & Insight

Daerah