BANDARLAMPUNG — Luas tanam padi Lampung pada Musim Tanam (MT) I 2025/2026 mencapai 449.068 hektare, meningkat 25.972 hektare atau 6,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 423.096 hektare.
Kenaikan ini bukan sekadar tambahan luas areal tanam. Bagi provinsi yang selama ini menjadi salah satu lumbung pangan nasional, peningkatan tersebut menjadi indikator penting bahwa kapasitas produksi beras Lampung pada 2026 berpotensi lebih kuat dibanding tahun sebelumnya.
Data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung menunjukkan pertumbuhan tanam terjadi di sebagian besar kabupaten sentra pangan, menandakan aktivitas budidaya yang tetap bergairah meskipun sejumlah wilayah menghadapi tantangan cuaca dan pola tanam yang berubah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung Elvira mengatakan peningkatan luas tanam menjadi modal awal yang penting untuk menjaga stabilitas produksi dan ketahanan pangan daerah.
“Kenaikan realisasi tanam menunjukkan optimisme petani masih sangat tinggi. Pemerintah terus mendorong percepatan tanam, optimalisasi lahan, dan penguatan sarana produksi agar target produksi pangan tahun ini dapat tercapai,” ujarnya, Senin (08/06/2026).
Lampung Utara Melonjak, Sentra Baru Makin Kuat
Jika ditelusuri lebih jauh, pertumbuhan luas tanam tidak hanya terjadi pada sentra tradisional, tetapi juga muncul dari daerah-daerah yang menunjukkan akselerasi cukup tajam.
Lampung Utara menjadi daerah dengan lonjakan paling menonjol. Luas tanam meningkat dari 18.976 hektare menjadi 35.923 hektare, atau bertambah 16.947 hektare. Secara persentase, capaian daerah ini mencapai 189,3 persen dibandingkan musim tanam sebelumnya.
Kenaikan signifikan juga terjadi di:
- Tulang Bawang, bertambah 10.028 hektare
- Pesawaran, bertambah 7.151 hektare
- Mesuji, bertambah 4.932 hektare
- Lampung Selatan, bertambah 3.899 hektare
- Lampung Timur, bertambah 3.647 hektare
Meski demikian, peta produksi padi Lampung masih didominasi daerah-daerah tradisional. Lampung Tengah tetap menjadi penyumbang luas tanam terbesar dengan realisasi mencapai 111.579 hektare, disusul Lampung Timur sebesar 66.634 hektare, Tulang Bawang sebesar 50.630 hektare, dan Lampung Selatan sebesar 49.699 hektare.
Di sisi lain, beberapa daerah mengalami koreksi. Lampung Tengah tercatat turun sekitar 1.696 hektare, Pringsewu berkurang 742 hektare, Lampung Barat turun 533 hektare, dan Tanggamus berkurang 98 hektare.
Namun penurunan di sejumlah daerah tersebut belum mampu mengubah tren pertumbuhan secara keseluruhan karena tertutupi oleh kenaikan besar di wilayah lain.
Panen Awal Tahun Mengirim Sinyal Positif
Optimisme terhadap produksi pangan Lampung juga tercermin dari perkembangan panen sepanjang Januari hingga April 2026.
Dalam periode empat bulan pertama tahun ini, total luas tanam mencapai 245.805 hektare, sedangkan realisasi panen mencapai 287.517 hektare. Luas panen yang lebih tinggi dibandingkan luas tanam menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman yang ditanam pada akhir 2025 mulai memasuki masa panen pada awal 2026.
Lampung Tengah kembali menjadi daerah dengan panen terbesar mencapai 68.298 hektare. Posisi berikutnya ditempati:
- Mesuji: 43.930 hektare
- Tulang Bawang Barat: 38.893 hektare
- Lampung Timur: 36.827 hektare
- Tulang Bawang: 29.971 hektare
Fenomena menarik terlihat di sejumlah daerah yang mencatat luas panen jauh lebih besar dibandingkan luas tanam pada periode Januari-April. Kondisi tersebut menandakan siklus produksi berjalan normal dan menunjukkan hasil tanam pada akhir tahun sebelumnya mulai dipanen secara masif pada awal 2026.
Menjaga Status Lumbung Pangan
Bagi Lampung, angka-angka tersebut memiliki makna strategis. Peningkatan luas tanam menjadi fondasi awal untuk menjaga produksi gabah dan beras di tengah meningkatnya kebutuhan pangan nasional.
Dengan luas tanam yang tumbuh lebih dari 25 ribu hektare dan tren panen yang mulai menguat pada awal tahun, Lampung memiliki peluang besar untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemasok utama beras nasional.
Apabila kondisi cuaca, ketersediaan air irigasi, dan distribusi sarana produksi tetap terjaga hingga musim panen berikutnya, maka capaian produksi padi Lampung pada 2026 berpotensi melampaui tahun sebelumnya.
Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian nasional, data musim tanam terbaru ini memberi pesan yang cukup jelas bahwa mesin produksi pangan Lampung masih bekerja dan bahkan menunjukkan tanda-tanda penguatan.(ipta)

Komentar