KALIANDA — Di tengah prosesi adat Timbang Marga yang berlangsung khidmat di Desa Kesugihan, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Senin (8/6/2026), perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada rangkaian upacara adat yang digelar. Ada satu simbol yang diam-diam berbicara lebih lantang daripada pidato: jubah hijau keemasan yang dikenakan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.
Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar pakaian adat. Namun bagi masyarakat Lampung, khususnya komunitas adat Saibatin, busana tersebut menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Ia adalah representasi sejarah, kewibawaan, identitas, sekaligus hubungan antara pemimpin dan akar budayanya.
Di era ketika modernisasi kerap menyeragamkan ekspresi budaya lokal, pilihan Gubernur Mirza mengenakan jubah kebesaran adat Saibatin dalam forum resmi mengirimkan pesan yang kuat: kemajuan tidak harus dibangun dengan meninggalkan tradisi.

Simbol Kepemimpinan dari Pesisir Lampung
Busana yang dikenakan Gubernur Mirza merupakan bentuk jubah kebesaran yang identik dengan tradisi masyarakat adat Lampung Saibatin atau Lampung Pesisir.
Berbeda dengan masyarakat Pepadun yang berkembang di wilayah pedalaman, masyarakat Saibatin tumbuh di sepanjang pesisir Lampung, mulai dari Kalianda, Teluk Semangka, Krui hingga wilayah pesisir barat lainnya. Karakter masyarakat pesisir yang sejak lama berinteraksi dengan berbagai peradaban membentuk kekayaan budaya yang khas, termasuk dalam tradisi berpakaian.
Jubah panjang berwarna hijau zaitun yang dikenakan gubernur bukan sekadar pilihan estetika. Dalam tradisi Lampung, warna hijau sering dimaknai sebagai simbol kesuburan, keseimbangan, keteduhan, dan kebijaksanaan seorang pemimpin dalam mengayomi masyarakat.
Sementara sulaman benang emas yang menghiasi hampir seluruh permukaan jubah menghadirkan simbol kemuliaan dan kehormatan. Kilauan emas tersebut juga mengingatkan pada masa ketika wilayah pesisir Lampung menjadi bagian penting jalur perdagangan maritim Nusantara yang menghubungkan berbagai bangsa dan kebudayaan.
Pada bagian kepala, tampak penutup kepala khas adat pesisir yang menjadi simbol tanggung jawab, martabat, dan legitimasi kepemimpinan dalam struktur adat Saibatin.
Jejak Peradaban dalam Sebuah Busana
Menariknya, bentuk jubah panjang yang dikenakan gubernur memperlihatkan bagaimana budaya Lampung berkembang melalui proses akulturasi yang panjang.
Sebagai masyarakat yang hidup di kawasan pesisir, komunitas Saibatin sejak berabad-abad lalu berinteraksi dengan pedagang dari berbagai wilayah, termasuk dunia Melayu dan Timur Tengah. Pengaruh tersebut tampak pada model pakaian yang menyerupai jubah panjang dan menutup tubuh secara sempurna, sejalan dengan nilai-nilai Islam yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung.
Namun pengaruh luar itu tidak menghapus identitas lokal. Sebaliknya, masyarakat Lampung mengolahnya menjadi bentuk budaya yang khas, memadukan nilai religius dengan ornamen Nusantara yang kaya akan simbol dan filosofi.
Karena itu, setiap helai kain, warna, dan motif yang melekat pada busana adat Lampung sesungguhnya merupakan rekaman sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat pesisir membangun peradaban dan mempertahankan jati dirinya.
Ketika Budaya Menjadi Agenda Pembangunan
Apa yang dikenakan Gubernur Mirza pada hari itu sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari pesan yang disampaikannya dalam acara Timbang Marga.
Di hadapan tokoh adat dan masyarakat, Gubernur menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk menghidupkan kembali desa-desa budaya sebagai pusat pelestarian identitas daerah.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah, mulai dari penguatan kelembagaan adat, revitalisasi desa budaya, hingga penggunaan bahasa Lampung dalam lingkungan pemerintahan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa budaya tidak boleh berhenti sebagai artefak yang hanya dipamerkan pada acara seremonial atau tersimpan di ruang museum. Budaya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, diwariskan kepada generasi muda, dan menjadi bagian dari cara masyarakat memandang dirinya sendiri.
Lebih dari Sekadar Pakaian
Dalam banyak kebudayaan, pakaian sering kali menjadi bahasa yang tidak diucapkan. Ia menyampaikan pesan tentang identitas, nilai, dan posisi seseorang dalam masyarakat.
Jubah Saibatin yang dikenakan Gubernur Mirza pada prosesi adat di Kalianda juga berbicara dalam bahasa yang sama. Ia menyampaikan bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari jalan yang dibangun, investasi yang masuk, atau angka pertumbuhan ekonomi yang meningkat.
Pembangunan juga menyangkut kemampuan sebuah daerah menjaga ingatan kolektifnya, mempertahankan identitasnya, dan mewariskan nilai-nilai yang membentuk karakter masyarakatnya.
Karena itu, jubah hijau keemasan yang dikenakan gubernur pada hari itu sesungguhnya bukan hanya busana adat. Ia adalah simbol bahwa Lampung sedang berupaya melangkah ke masa depan tanpa melepaskan akar budayanya sendiri.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, mungkin itulah pesan paling penting yang ingin disampaikan: bahwa menjadi modern tidak berarti berhenti menjadi Lampung.(ipta)

Komentar