Hasil seleksi SMA Unggul Lampung memunculkan beragam respons dari wali murid. Disdik Lampung menjelaskan bahwa kelulusan jalur prestasi ditentukan oleh kombinasi nilai rapor, TKA, TPA, dan prestasi, bukan rapor semata. Lulus, selamat. Tidak lulus, tetap semangat. SPMB bukan titik akhir
BANDARLAMPUNG — Tak ada gading yang tak retak. Seteliti apa pun sebuah sistem dirancang, selalu ada ruang bagi pertanyaan, kritik, bahkan kekecewaan dari mereka yang berada di luar garis akhir seleksi. Begitu pula yang terjadi pada pengumuman hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA Unggul Provinsi Lampung Tahun Ajaran 2026/2027.
Sejumlah orang tua siswa menyampaikan kekecewaannya setelah anak mereka yang memiliki nilai rapor tinggi tidak berhasil lolos melalui jalur prestasi. Keluhan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan diskusi mengenai mekanisme seleksi sekolah unggulan yang diterapkan Pemerintah Provinsi Lampung.
Salah satu wali murid mengaku heran karena anaknya yang memiliki nilai rapor di atas 91 dan berada di peringkat atas sekolah tetap tidak masuk dalam daftar peserta yang diterima. Menurutnya, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Tes Potensi Akademik (TPA) yang dilaksanakan dalam satu hari menjadi faktor yang sangat menentukan hasil akhir.
Menanggapi berbagai respons tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, meminta masyarakat melihat proses seleksi secara utuh.
Menurut Thomas, seluruh peserta yang mendaftar melalui jalur prestasi merupakan siswa-siswi terbaik yang telah lolos seleksi administrasi dari berbagai SMP di kabupaten dan kota se-Lampung. Dengan kata lain, kompetisi yang terjadi bukan lagi antara siswa berprestasi dan siswa biasa, melainkan antarsiswa terbaik dari sekolah masing-masing.
“Peserta jalur prestasi ini pada dasarnya adalah anak-anak pilihan dari daerahnya masing-masing. Mereka sudah memenuhi persyaratan akademik maupun non-akademik sebelum mengikuti tahapan tes. Karena itu persaingan menjadi sangat ketat,” kata Thomas.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan Petunjuk Teknis SPMB 2026, penentuan kelulusan jalur prestasi SMA Unggul menggunakan sistem pembobotan yang menggabungkan empat komponen penilaian.
Nilai rapor semester satu hingga semester lima memiliki bobot 30 persen. Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) menyumbang 30 persen, Tes Potensi Akademik (TPA) sebesar 30 persen, sedangkan sertifikat atau piagam prestasi memperoleh bobot 10 persen.
Dengan formula tersebut, peserta yang memiliki nilai rapor sangat tinggi belum tentu otomatis menempati peringkat teratas apabila nilai TKA, TPA, atau komponen prestasi lainnya berada di bawah peserta lain.
“Kelulusan tidak ditentukan oleh satu indikator saja. Semua komponen digabung dan dihitung sesuai bobot yang telah ditetapkan dalam petunjuk teknis. Tujuannya agar seleksi berlangsung objektif dan mampu menggambarkan kemampuan peserta secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
Thomas mengatakan, sistem ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada satu ukuran penilaian semata. Nilai rapor tetap menjadi faktor penting, tetapi kemampuan akademik aktual yang diukur melalui tes juga menjadi bagian dari pertimbangan.
Di sisi lain, tingginya antusiasme masyarakat terhadap SMA Unggul juga menjadi tantangan tersendiri. Kuota yang tersedia jauh lebih kecil dibandingkan jumlah pendaftar yang berasal dari seluruh wilayah Lampung.
Dalam kondisi seperti itu, selisih nilai yang sangat tipis dapat menentukan posisi akhir peserta dalam perangkingan.
“Kuota sekolah unggul terbatas, sementara peminatnya sangat tinggi. Karena itu masyarakat perlu melihat hasil seleksi berdasarkan keseluruhan mekanisme yang sudah ditetapkan, bukan hanya dari satu komponen nilai saja,” kata Thomas.
Ia mengakui bahwa setiap proses seleksi berskala besar selalu menyisakan evaluasi dan masukan dari masyarakat. Namun hal tersebut justru menjadi bahan perbaikan untuk penyelenggaraan pada tahun-tahun berikutnya.
Sebab tujuan utama SMA Unggul bukan hanya mencari siswa dengan nilai rapor tertinggi, tetapi menjaring peserta didik yang menunjukkan kombinasi terbaik antara prestasi akademik, potensi intelektual, dan capaian yang telah diraih selama menempuh pendidikan.
Di tengah tingginya ekspektasi orang tua dan ketatnya persaingan, proses seleksi tahun ini menjadi pengingat bahwa dalam sebuah kompetisi dengan ribuan peserta terbaik, tidak semua hasil dapat diukur hanya dari satu angka. Ada sistem yang bekerja, ada ruang evaluasi yang terus terbuka, dan ada pelajaran berharga yang dapat menjadi bekal untuk penyempurnaan pada masa mendatang.
Thomas juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses seleksi SMA Unggul Tahun Ajaran 2026/2027. Ia mengucapkan selamat kepada para siswa yang berhasil lolos dan meminta mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus berprestasi.
Kepada peserta yang belum berhasil, Thomas meminta agar tidak larut dalam kekecewaan. Menurutnya, hasil seleksi bukanlah penentu masa depan seseorang karena masih banyak ruang dan kesempatan untuk meraih prestasi di sekolah mana pun.
“Saya mengucapkan selamat kepada anak-anak yang telah dinyatakan lolos. Manfaatkan kesempatan ini dengan belajar sungguh-sungguh dan terus mengembangkan potensi diri. Bagi yang belum berhasil, jangan berkecil hati dan jangan kehilangan semangat. Ini bukan akhir dari perjalanan. Kesuksesan tidak ditentukan oleh satu hasil seleksi, tetapi oleh kerja keras, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar. Tetap semangat melanjutkan pendidikan dan terus berprestasi di mana pun kalian berada,” ujar Thomas.(ipta)

Komentar