Sensus Ekonomi 2026 menjadi langkah penting bagi Lampung untuk memetakan ulang kondisi ekonomi daerah. Data yang akurat dinilai menjadi fondasi utama dalam merancang pembangunan yang tepat sasaran.
@IPTA
Tidak ada pembangunan yang lahir dari tebakan. Setiap jalan yang dibangun, investasi yang didorong, bantuan yang disalurkan, hingga lapangan kerja yang ingin diciptakan, pada akhirnya bergantung pada satu hal yang sering luput dari perhatian publik: data.
Karena itulah pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 menjadi penting bagi Lampung.
Bukan semata-mata karena kegiatan tersebut hanya dilakukan sekali dalam sepuluh tahun, tetapi karena ekonomi Lampung hari ini sudah jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu.
Pandemi Covid-19 mengubah perilaku usaha. Digitalisasi mempercepat transaksi. UMKM bermigrasi ke platform daring. Pola konsumsi masyarakat berubah. Bahkan sektor-sektor ekonomi baru tumbuh yang sebelumnya nyaris tidak terlihat dalam peta ekonomi daerah.
Pertanyaannya, apakah seluruh perubahan tersebut sudah benar-benar terbaca oleh pemerintah?
Pertanyaan itulah yang ingin dijawab melalui Sensus Ekonomi 2026 yang resmi dicanangkan Pemerintah Provinsi Lampung bersama Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (9/6/2026).
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan bahwa data yang akurat merupakan fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pembangunan.
“Data yang lengkap dan akurat merupakan kompas bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan. Tanpa data yang baik, keputusan yang diambil berpotensi menimbulkan kesalahan karena adanya asimetri informasi,” ujar Jihan.
Pernyataan tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan mendasar dalam tata kelola pemerintahan modern.
Pemerintah dapat memiliki niat baik, program besar, bahkan anggaran yang memadai. Namun tanpa data yang akurat, kebijakan berisiko salah sasaran.
Investasi bisa diarahkan ke sektor yang tidak lagi tumbuh. Bantuan dapat diberikan kepada kelompok yang tidak lagi membutuhkan. Sementara potensi ekonomi baru justru luput dari perhatian.
Dalam konteks itu, data bukan sekadar kumpulan angka.
Data adalah cermin.
Melalui data, pemerintah dapat melihat kondisi riil masyarakat, memahami perubahan yang sedang terjadi, sekaligus mengenali peluang dan tantangan yang akan dihadapi pada masa depan.
Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution menjelaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 akan memberikan gambaran lebih rinci mengenai struktur ekonomi daerah, mulai dari jumlah dan karakteristik usaha, sektor-sektor penyerap tenaga kerja, tingkat produktivitas, hingga perubahan komposisi ekonomi yang terjadi selama satu dekade terakhir.
Menurutnya, hasil sensus akan menjadi dasar penting dalam merancang kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
“Sensus ekonomi akan membantu pemerintah memahami kekuatan dan tantangan ekonomi Lampung. Dengan data yang lengkap dan berkualitas, kebijakan pembangunan dapat dirancang lebih tepat sasaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, daya saing daerah, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pelaksanaan sensus berlangsung sejak 1 Mei hingga 31 Agustus 2026 dengan metode pendataan langsung kepada pelaku usaha di seluruh wilayah Lampung.
BPS juga memastikan seluruh data yang diberikan masyarakat dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik.
Di tengah ambisi besar Lampung untuk mempercepat investasi, memperkuat hilirisasi, mengembangkan UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, keberadaan data yang akurat menjadi semakin penting.
Sebab pembangunan bukan hanya soal bergerak cepat.
Pembangunan juga soal bergerak ke arah yang benar.
Dan sebelum menentukan ke mana akan melangkah, sebuah daerah harus terlebih dahulu memahami siapa dirinya, di mana posisinya, dan potensi apa yang dimilikinya.
Dalam konteks itulah Sensus Ekonomi 2026 menemukan relevansinya.
Ia bukan sekadar kegiatan pendataan.
Ia adalah upaya Lampung mengenali dirinya sendiri sebelum merancang masa depannya.(ipta)

Komentar