Pemprov Lampung berpeluang menjadi Official Strategic Province Partner pada Indonesia Circular Innovation Forum (ICIF) 2026 di Amsterdam untuk menarik investasi hijau, mempercepat hilirisasi biomassa, dan membuka akses pasar Eropa.
BANDARLAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung kembali mengambil langkah strategis pembangunan ekonomi daerah. Kali ini, Lampung bersiap membawa peluang investasi ekonomi sirkular ke Belanda, membuka jalan bagi masuknya modal, teknologi, dan pasar Eropa untuk mempercepat hilirisasi komoditas serta industri hijau di daerah.
Langkah tersebut mengemuka setelah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menerima audiensi penyelenggara Indonesia Circular Innovation Forum (ICIF) – Netherlands Business Mission 2026 di Ruang Kerja Gubernur, Rabu (29/7/2026).
Pertemuan itu membahas peluang Lampung menjadi Official Strategic Province Partner dalam ICIF 2026 yang akan berlangsung di Amsterdam, Belanda, pada 3–4 November 2026.
Apabila terealisasi, Lampung tidak sekadar hadir sebagai peserta forum internasional, tetapi tampil sebagai daerah yang secara aktif menawarkan proyek investasi kepada investor, penyedia teknologi, lembaga riset, dan pelaku industri dari Belanda maupun negara-negara Eropa.
Strategi ini menandai perubahan pendekatan pembangunan daerah. Lampung tidak lagi hanya mengandalkan promosi komoditas mentah, tetapi mulai menawarkan nilai tambah melalui investasi berbasis ekonomi sirkular.
Ekonomi sirkular merupakan model pembangunan yang mengubah limbah menjadi sumber daya ekonomi baru. Limbah pertanian, perkebunan, dan industri tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi, pupuk organik, biochar, material industri, hingga produk bernilai tinggi lainnya.
Bagi Lampung, peluang tersebut sangat besar.
Sebagai salah satu lumbung pangan dan sentra perkebunan nasional, Lampung menghasilkan jutaan ton biomassa setiap tahun, mulai dari limbah kelapa sawit, sekam padi, batang dan ampas tebu, limbah kopi, hingga residu pertanian lainnya. Selama ini, sebagian besar potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menilai kekayaan biomassa tersebut merupakan modal penting untuk membangun industri hijau yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memperluas lapangan kerja.
Menurutnya, berbagai proyek energi baru terbarukan dan pengembangan industri hijau yang sedang disiapkan akan menjadi fondasi transformasi ekonomi Lampung dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, Mirza menegaskan bahwa pengembangan industri tetap harus berjalan seiring dengan perlindungan sektor pertanian sebagai kekuatan utama ekonomi daerah.
Project Director ICIF, Rizky Diansyah, menjelaskan forum di Amsterdam bukan sekadar pameran teknologi ramah lingkungan.
ICIF dirancang sebagai ruang temu antara pemerintah daerah, investor, perusahaan, penyedia teknologi, dan lembaga riset untuk melahirkan kerja sama bisnis yang konkret.
Menurutnya, Amsterdam dipilih karena merupakan salah satu pusat pengembangan ekonomi sirkular dunia sekaligus pintu strategis menuju pasar Uni Eropa.
Melalui forum tersebut, proyek-proyek strategis Lampung akan dipertemukan langsung dengan calon investor, mitra teknologi, dan lembaga pendanaan internasional yang memiliki minat pada sektor industri hijau.
Tidak hanya itu, penyelenggara juga menilai Lampung memiliki peluang besar dikembangkan sebagai Provinsi Biochar Indonesia, mengingat besarnya potensi biomassa serta komitmen pemerintah daerah dalam mendorong ekonomi sirkular.
Jika menjadi mitra strategis resmi ICIF, Lampung akan memperoleh panggung untuk mempresentasikan peluang investasi melalui innovation showcase, business matching, forum investasi, hingga pertemuan bisnis eksklusif dengan investor Eropa.
Delegasi daerah juga akan memperoleh pendampingan terkait aspek hukum, investasi, dan akses jejaring bisnis internasional sehingga peluang kerja sama dapat berlanjut hingga tahap implementasi proyek.
Bagi Lampung, forum ini bukan sekadar agenda diplomasi ekonomi.
Ini adalah upaya memosisikan daerah sebagai tujuan investasi hijau yang mampu mengolah kekayaan sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah, sekaligus memperluas akses ekspor ke pasar global.
Jika strategi tersebut berhasil, manfaatnya tidak hanya berupa tambahan investasi. Hilirisasi komoditas pertanian dapat dipercepat, industri berbasis biomassa berkembang, lapangan kerja baru tercipta, dan nilai ekonomi limbah yang selama ini terbuang dapat diubah menjadi sumber pertumbuhan baru.
Di tengah persaingan antardaerah menarik investasi, langkah membawa potensi ekonomi sirkular Lampung ke panggung Eropa menunjukkan perubahan orientasi pembangunan tidak lagi sekadar menjual komoditas, tetapi menawarkan ekosistem investasi yang menghubungkan sumber daya lokal, teknologi, industri hijau, dan pasar internasional.(ipta)

Komentar