Daerah Pendidikan
Beranda / Pendidikan / “Kita Berhasil, Bang…” Selembar Kertas dari SMAN 14 Kemiling dan Harapan Baru Pendidikan Lampung

“Kita Berhasil, Bang…” Selembar Kertas dari SMAN 14 Kemiling dan Harapan Baru Pendidikan Lampung

Kadisdikbud Lampung Thomas Amirico

Selasa sore, 26 Mei 2026.

Pintu ruang kerja itu terbuka cepat.

Dari baliknya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, muncul sambil mengangkat selembar kertas di tangan kanannya. Langkahnya ringan, tetapi wajahnya menyimpan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kabar biasa.

“Kita berhasil, Bang…”

Kalimat itu meluncur keras, hampir seperti letupan kegembiraan yang terlalu lama ditahan.

Dari Lampung, Pesan Pancasila untuk Dunia yang Semakin Terbelah

Ia lalu mendekat, masih memegang lembar data tersebut. Ia mengibas-ngibaskannya.

“Ini luar biasa. Anak kelas 12 SMAN 14 di Kemiling lulus semua ke PTN.”

Sesaat ruang itu berubah. Bukan lagi ruang birokrasi dengan tumpukan agenda, laporan, dan tekanan administrasi pendidikan. Melainkan ruang kecil tempat sebuah harapan sedang menemukan bentuknya.

Di tangan Thomas Amirico, kertas itu memang hanya berisi angka-angka. Tetapi di balik angka itu, tersimpan cerita panjang tentang anak-anak yang bertahan belajar di tengah tekanan ekonomi keluarga, guru-guru yang tidak berhenti mendorong muridnya bermimpi lebih tinggi, dan sekolah negeri yang diam-diam sedang membangun reputasi baru.

SMAN 14, bukanlah sekolah favorit. Tetapi mampu membuat harapan baru pendidikan di Lampung.

Pancasila Tidak Kekurangan Pembela

Sebanyak 284 siswa kelas XII SMAN 14 Bandar Lampung dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri melalui berbagai jalur seleksi nasional. Tidak satu pun tertinggal. Semua siswa diterima di PTN.

Di tengah kompetisi masuk kampus yang semakin brutal setiap tahun, capaian itu terasa nyaris tidak biasa.

Lampung mungkin kerap bicara tentang jalan, investasi, pertumbuhan ekonomi, atau hilirisasi komoditas. Tetapi sore itu, satu lembar data dari Kemiling seperti mengingatkan bahwa masa depan daerah sesungguhnya sedang dibangun diam-diam di ruang kelas sekolah negeri.

Thomas Amirico tampak belum selesai dengan rasa bangganya.

“Saya yakin nanti akan ada kabar baik lagi,” katanya.

Ekspor Satu Pintu Komoditi Strategis Dimulai, Kontrol Data atau Kontrol Perdagangan?

Nada suaranya terdengar optimistis. Seolah ia sedang melihat sesuatu yang lebih besar dibanding sekadar angka kelulusan.

Dan memang mungkin itulah yang sedang terjadi.

Keberhasilan SMAN 14 Bandar Lampung bukan hanya tentang 284 siswa yang lolos perguruan tinggi. Ia adalah tanda tentang mulai bergeraknya kualitas pendidikan menengah Lampung ke arah yang lebih kompetitif.

Mayoritas siswa diterima di Universitas Lampung, Institut Teknologi Sumatera, dan UIN Raden Intan Lampung. Sebagian lainnya menembus kampus-kampus nasional seperti Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, hingga IPB University.

Itu berarti  anak-anak Lampung mulai berani memasuki arena persaingan nasional.

Dan keberanian seperti itu tidak lahir dalam satu malam.

Ia tumbuh dari kultur belajar. Dari guru yang memilih bertahan mendampingi muridnya. Dari orang tua yang tetap menyisihkan harapan di tengah keterbatasan ekonomi. Dari sekolah yang tidak lagi puas hanya meluluskan siswa, tetapi mulai serius mengantar mereka menuju masa depan.

Kemiling sedikit jauh dari kota.

Namun dari sana, sebuah pesan penting sedang dikirimkan ke seluruh Lampung, bahwa sekolah negeri, ketika dikelola dengan visi dan keyakinan, masih mampu menjadi tangga sosial paling penting bagi anak-anak daerah.

Mungkin karena itulah Thomas Amirico tampak begitu bahagia saat mengangkat selembar kertas itu.

Sebab bagi dunia pendidikan, tidak ada kemenangan yang lebih indah selain melihat anak-anaknya berhasil membuka pintu masa depan mereka sendiri.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *