JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai mengubah cara memandang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA sederajat tahun 2026. Perubahannya sederhana, satu hari hanya satu mata pelajaran.
Namun di balik perubahan teknis tersebut, ada satu pengakuan penting yang selama ini jarang diucapkan secara terbuka dalam dunia pendidikan Indonesia yang selama ini terlalu banyak siswa menjalani ujian dalam kondisi lelah.
Pada pelaksanaan TKA sebelumnya, peserta harus mengerjakan hingga tiga mata pelajaran dalam satu hari. Pola itu dinilai membuat siswa kehabisan fokus, mengalami tekanan berlebih, dan tidak mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka secara optimal.
Kini, Kemendikdasmen memutuskan mengubah skema ujian menjadi lebih ringan.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati mengatakan evaluasi pelaksanaan TKA 2025 menjadi dasar utama perubahan tersebut.
“Dengan masukan dan evaluasi tahun 2025, tahun ini untuk mata pelajaran wajib tidak lagi diujikan satu hari, tapi satu hari satu mata pelajaran,” ujar Rahmawati.
Dalam skema baru TKA 2026, hari pertama akan diisi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang juga mencakup literasi dan survei karakter.
Hari kedua diisi Bahasa Inggris dan survei lingkungan belajar.
Hari ketiga khusus matematika dan numerasi, sementara hari keempat diperuntukkan bagi dua mata pelajaran pilihan sesuai minat siswa.
Kemendikdasmen juga mengurangi jumlah soal matematika dari 30 menjadi 25 soal. Namun waktu pengerjaan justru diperpanjang menjadi 75 menit sehingga siswa memiliki ruang berpikir yang lebih longgar dalam menyelesaikan soal.
Sekilas, perubahan ini tampak administratif. Tetapi sesungguhnya ia menyentuh persoalan yang lebih besar tentang bagaimana sistem pendidikan Indonesia selama ini terlalu sering mengukur kemampuan siswa tanpa cukup mempertimbangkan kondisi psikologis mereka.
Selama bertahun-tahun, pendidikan nasional cenderung terbiasa dengan budaya padat materi, padat evaluasi, dan tekanan akademik tinggi. Siswa sering dipaksa bertahan dalam ritme belajar yang melelahkan, sementara keberhasilan pendidikan lebih banyak diukur dari angka dan hasil akhir.
Padahal kemampuan akademik tidak selalu muncul dalam situasi penuh tekanan.
Karena itu, keputusan mengurangi beban ujian setidaknya menunjukkan bahwa pemerintah mulai membaca pendidikan secara lebih manusiawi. Bahwa menjaga fokus, kesehatan mental, dan kenyamanan belajar siswa juga merupakan bagian penting dari kualitas pendidikan itu sendiri.
Perubahan ini juga memberi pesan bahwa evaluasi pendidikan tidak boleh hanya sibuk mengukur siswa, tetapi juga harus mau mengevaluasi sistemnya sendiri.
Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental pelajar mulai menjadi perhatian serius di banyak negara. Tekanan akademik yang terlalu tinggi tidak hanya memengaruhi hasil belajar, tetapi juga memengaruhi rasa percaya diri, kecemasan, hingga motivasi siswa terhadap pendidikan.
Karena itu, langkah Kemendikdasmen ini layak diapresiasi sebagai upaya memperbaiki pengalaman belajar dan evaluasi siswa secara lebih rasional.
Namun tantangan pendidikan Indonesia tentu tidak berhenti pada perubahan jadwal ujian.
Pertanyaan yang jauh lebih besar tetap ada, apakah sistem pendidikan kita benar-benar sudah memberi ruang bagi siswa untuk belajar memahami, berpikir kritis, dan berkembang sesuai potensinya, atau masih terlalu fokus mengejar target angka semata?
Sebab pendidikan yang matang bukan hanya pendidikan yang rajin menguji siswa, tetapi pendidikan yang juga berani memperbaiki cara menguji mereka.(ipta)

Komentar