Lifestyle Opini & Insight
Beranda / Opini & Insight / Perempuan Penjaga Malam di Lampung Bergelut Beban Hidup yang Tak Berkesudahan

Perempuan Penjaga Malam di Lampung Bergelut Beban Hidup yang Tak Berkesudahan

Ilustrasi

Di bawah kerlap-kerlip lampu karaoke dan dentuman musik malam, perempuan-perempuan muda bekerja tanpa kepastian, menukar waktu, tubuh, dan tenaga untuk membuat industri hiburan tetap hidup sampai pagi.

***

Malam di Lampung tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika toko-toko mulai tutup dan jalan lintas perlahan lengang, cahaya lain justru menyala lebih terang.

Warna cahayanya ungu, merah muda, dan biru pucat.

Memantul di lantai, kaca mobil dan genangan aspal yang masih menyimpan panas siang.

Dari Lampung, Pesan Pancasila untuk Dunia yang Semakin Terbelah

Pintu kaca terbuka. Musik keluar bersama asap rokok dan udara dingin pendingin ruangan. Dentuman bass terdengar seperti jantung yang dipaksa terus bekerja. Di dalam room-room sempit itu, malam diputar ulang setiap hari dengan pola yang hampir sama. Botol dibuka, lagu dipilih, tawa dipaksakan.

Di sana perempuan-perempuan muda duduk berbaris. Ada pula yang hilir mudik membawa senyum, belahan dada dan paha yang tersingkap.

Mereka disebut LC.

Mereka,ย  sebagian datang dari kampung kecil. Sebagian dari kota yang lebih kecil lagi. Banyak yang masih sangat muda. Ada yang setengah tua. Di tempat itu mereka bergerak dari meja ke meja, dari room ke room,ย  menemani tamu bernyanyi, minum, berbicara, tertawa. Kadang, kerap sampai pagi.

Sesungguhnya mereka tidak benar-benar dibayar untuk bernyanyi.

Pancasila Tidak Kekurangan Pembela

Mikrofon hanya pelengkap.

Yang dicari tamu bukan suara. Yang dibeli adalah perhatian. Teman duduk. Teman minum. Teman untuk membuat malam terasa lebih hidup selama beberapa jam.

Di Lampung, bisnis seperti ini tumbuh cepat. Tidak lagi hanya di pusat kota. Karaoke berdiri di dekat pasar, jalur truk, kawasan kebun, pinggir kecamatan, bahkan di ruas jalan yang siangnya tampak sepi. Lampu-lampu itu muncul satu demi satu, dan setiap tempat baru membutuhkan perempuan baru untuk menghidupkannya.

Tanpa LC, room menjadi kosong. Meja-meja lounge lenggang tak terhampiri.

Tetapi meski menjadi pusat bisnis malam, posisi mereka nyaris tak pernah jelas. Semuanya bekerja tanpa kontrak. Tanpa jaminan kesehatan. Tanpa gaji, bahkan kepastian pendapatan. Mereka bisa pulang membawa uang cukup banyak dalam satu malam. Bisa juga hampir tak membawa apa-apa.

Ekspor Satu Pintu Komoditi Strategis Dimulai, Kontrol Data atau Kontrol Perdagangan?

Namun aturan tetap ketat.

Mereka harus datang tepat waktu. Makeup harus rapi. Pakaian harus sesuai standar tempat kerja. Rambut, sepatu, cara duduk, cara bicara, semuanya diperhatikan. Bahkan cara menolak tamu pun harus dilakukan hati-hati agar tidak dianggap merusak suasana.

Saat ramai, mereka nyaris tak berhenti bekerja.

Saat sepi, mereka menunggu.

Biasanya di satu ruangan besar di belakang karaoke, LC tiduran sambil menunggu tamu datang. Beberapa sibuk memperbaiki makeup di depan cermin kecil. Ada yang bermain ponsel dalam diam. Skrol-skrolan main tiktokan.

Untuk bekerja di tempat seperti itu, hampir semuanya harus dibayar sendiri.

Makan sendiri.

Kosmetik sendiri.

Baju sendiri.

Parfum sendiri.

Beli “udut” pakai duit sendiri.

Bahkan untuk terlihat menarik, mereka harus makeup. Bayarnya belakangan, ngutang mingguan atau bulanan.

Di tempat-tempat itu, penampilan bukan lagi soal gaya.

Ia menjadi alat kerja.

Yang beruntung mendapat tamu. Menemani nyanyi, dan meneguk minuman. Yang beruntung bisa dapat sebungkus rokok dan tips. Yang apes, tak dapat dua-duanya. Cuma dapat mabuk.

Menolak tamu berarti kehilangan pelanggan. Kehilangan pelanggan berarti kehilangan penghasilan.

Saat pulang, mereke pulang dengan langkah pelan. Naik gojek, memikul beban pikiran, cicilan.

Akibat penghasilan yang tidak menentu membuat mereka hidup dengan utang yang dipinjam dengan bunga subur hingga cepat tumbuh.

Mula-mula mereka berutang untuk makan.

Setelah itu, mereka bekerja untuk membayar bunga.

Banyak orang menikmati hiburan malam dan hangatnya perempuan-perempuan mesin malam.ย  Namun mereka sering dianggap masalah, bukan pekerja, cuma “ani-ani” laki-laki nakal.

Padahal industri malam itu hidup karena mereka.

Tanpa LC, lampu mungkin tetap menyala, tetapi room-room akan terasa kosong. Musik hanya menjadi suara keras tanpa suasana. Bisnis malam membutuhkan mereka, tetapi jarang memberi mereka rasa aman.

Menjelang pagi, para LC keluar terakhir.

Sebagian membawa uang.

Sebagian membawa kelelahan.

Sebagian membawa keduanya.

Lalu besok malam mereka datang lagi.

Berdiri lagi di bawah lampu-lampuย  yang sama.

Menunggu tamu berikutnya masuk.

Menunggu pagi berikutnya tiba.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *