Pendidikan
Beranda / Pendidikan / “Pak, Bukankah Ini Cuma Tes Lagi?” Percakapan dengan Thomas tentang D SMART, Data, dan Mimpi Besar Pendidikan Lampung

“Pak, Bukankah Ini Cuma Tes Lagi?” Percakapan dengan Thomas tentang D SMART, Data, dan Mimpi Besar Pendidikan Lampung

Kadisdikbud Lampung Thomas Amirico

Suatu sore di pekan lalu, pertanyaan itu akhirnya saya lontarkan juga kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, Thomas Amirico.

“Pak, jujur saja. Ketika orang mendengar D SMART, yang terbayang itu tes lagi, tes lagi. Bukankah anak-anak kita sudah terlalu sering diuji?”

Thomas tersenyum.

Ia tampaknya sudah cukup sering mendengar pertanyaan serupa.

“Kalau D SMART hanya menambah tes, saya mungkin tidak akan terlalu bersemangat membicarakannya,” katanya.

Dari Lampung, Pesan Pancasila untuk Dunia yang Semakin Terbelah

Jawaban itu membuat percakapan menjadi menarik.

Karena ternyata D SMART bukan berangkat dari keinginan menambah ujian, melainkan dari sebuah kegelisahan yang jauh lebih mendasar.

“Apa sebenarnya yang mengganggu pikiran Bapak?”

Thomas terdiam sejenak.

“Laporan pendidikan kita sebenarnya banyak. Data kelulusan ada. Data siswa masuk perguruan tinggi ada. Prestasi sekolah juga ada. Tapi saya sering bertanya, apakah kita benar-benar sudah mengenal kemampuan anak-anak yang sedang kita didik?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Pancasila Tidak Kekurangan Pembela

Tetapi semakin dipikirkan, semakin sulit menjawabnya.

Kita tahu siapa yang lulus.

Kita tahu siapa yang masuk PTN.

Kita tahu sekolah mana yang berprestasi.

Tapi apakah kita benar-benar tahu kemampuan literasi mereka? Numerasi mereka? Di bagian mana mereka unggul? Di bagian mana mereka membutuhkan bantuan?

Ekspor Satu Pintu Komoditi Strategis Dimulai, Kontrol Data atau Kontrol Perdagangan?

“Sering kali yang kita lihat adalah hasil akhirnya. Padahal pendidikan itu proses yang panjang,” katanya.

“Tapi bukankah pemerintah pusat sudah punya banyak asesmen?”

“Betul,” jawab Thomas.

“Lalu mengapa Lampung masih membutuhkan D SMART?”

Menurutnya, asesmen nasional sangat penting untuk melihat gambaran besar pendidikan Indonesia.

Tetapi ketika pemerintah daerah ingin memahami kondisi pendidikan sampai ke level sekolah, kecamatan, atau kabupaten, dibutuhkan instrumen yang lebih rinci.

“Kalau dokter hanya memeriksa pasien setahun sekali, tentu banyak hal yang tidak terbaca. Pendidikan juga begitu.”

D SMART, menurutnya, adalah cara untuk membaca kondisi pendidikan Lampung secara lebih dekat.

“Ada yang khawatir hasilnya nanti hanya menjadi tumpukan data.”

Thomas tertawa kecil.

“Itu justru tantangan terbesar.”

Ia mengakui banyak program gagal bukan karena kekurangan data, melainkan karena data tidak digunakan.

“Kalau setelah D SMART kita hanya menghasilkan grafik yang bagus lalu disimpan di lemari, berarti kita gagal.”

Kalimat itu cukup menarik.

Karena untuk pertama kalinya percakapan tidak lagi berbicara soal aplikasi atau teknologi.

Yang dibicarakan adalah keputusan.

Apa yang akan dilakukan ketika data menunjukkan literasi di satu wilayah tertinggal?

Apa yang dilakukan jika numerasi di wilayah lain mengalami penurunan?

Apa yang dilakukan jika sebuah sekolah berhasil melonjak jauh dibanding sebelumnya?

“D SMART harus menjadi alat untuk bertindak, bukan sekadar alat untuk mengukur,” ujarnya.

“Mengapa bank soal dibuat di provinsi? Mengapa tidak diserahkan ke daerah?”

Pertanyaan ini langsung membuat Thomas menjawab cepat.

“Karena kita ingin membaca kondisi pendidikan secara adil.”

Menurutnya, pemetaan hanya akan akurat jika seluruh peserta diukur menggunakan standar yang sama.

Kalau setiap daerah membuat soal sendiri, hasilnya akan sulit dibandingkan.

“Kalau ada dua siswa mendapat nilai berbeda, kita ingin yakin bahwa yang berbeda adalah kemampuan mereka, bukan tingkat kesulitan soalnya.”

Di titik ini terlihat bahwa D SMART sebenarnya bukan sekadar proyek digitalisasi.

Ia adalah upaya membangun bahasa pengukuran yang sama bagi seluruh sekolah di Lampung.

“Apa yang sebenarnya ingin dicapai?”

Pertanyaan terakhir ini membuat percakapan menjadi lebih hening.

Thomas tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.

“Saya ingin pendidikan Lampung dibangun berdasarkan pemahaman yang lebih baik.”

Bukan asumsi.

Bukan perasaan.

Bukan dugaan.

Tetapi pemahaman yang lahir dari data yang dapat dipercaya.

“Sebab kita tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak kita pahami.”

Percakapan sore itu akhirnya membuat saya memahami satu hal.

D SMART mungkin memang berbentuk tes.

Siswa akan mengerjakan soal.

Sekolah akan menerima hasil.

Pemerintah akan mengumpulkan data.

Tetapi filosofi yang melahirkannya ternyata jauh lebih besar daripada sekadar ujian.

Ia berangkat dari sebuah pertanyaan yang sederhana, apakah kita benar-benar sudah mengenal anak-anak yang sedang kita siapkan untuk masa depan?

Karena sebelum berbicara tentang sekolah unggul, SDM unggul, atau Indonesia Emas, ada satu pekerjaan yang harus dilakukan terlebih dahulu.

“Mengenal mereka.”

“Ya, kita harus pahami mereka, tahu kondisinya seperti apa. Dan, itulah yang sedang kita upayakan melalui D SMART.”

โ€œD SMART bukan tentang mengukur siapa yang paling pintar. D SMART adalah ikhtiar untuk mengenal potensi setiap anak Lampung agar pendidikan dapat hadir lebih tepat dan lebih bermakna.โ€(ipta)

Note: D SMART merupakan singkatan dari Data Standarisasi Mutu Akademik Regional Terpadu, sebuah platform asesmen digital yang digunakan untuk memetakan kemampuan literasi, numerasi, survei karakter, hingga simulasi persiapan masuk perguruan tinggi bagi siswa SMA dan SMK di Lampung.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *