JAKARTA – Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla memberi petunjuk tentang cara yang selama ini membuatnya berkali-kali berhasil masuk ke ruang konflik dan membawa pulang perdamaian.
Di usia ke-84 tahun, JK mengaku dirinya masih terlibat dalam upaya penyelesaian konflik di dua negara. Namun ia memilih tidak membuka terlalu banyak detail ke publik.
Bagi JK, perdamaian justru sering gagal ketika terlalu cepat diumumkan.
“Kami sekarang masih urus ada dua negara untuk bagaimana dia damai. Tapi prinsip saya, perdamaian itu tidak boleh diumbar. Tidak boleh dipublikasikan sebelum mencapai 80 persen,” kata JK saat acara ulang tahunnya di kediamannya di Jakarta, Sabtu (15/5/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di situlah salah satu pendekatan paling khas dari Jusuf Kalla selama puluhan tahun.
Ia percaya perdamaian membutuhkan ruang sunyi.
Bukan panggung yang terlalu ramai.
JK lalu menyinggung proses damai Aceh yang dulu berjalan diam-diam di Helsinki, Finlandia. Saat proses negosiasi berlangsung, publik nyaris tidak mengetahui ada pembicaraan besar yang sedang berjalan.
“Dulu Aceh begitu, tidak ada yang tahu bahwa ada pertemuan di Helsinki sampai selesai,” ujarnya.
Bagi JK, terlalu cepat membuka proses perdamaian justru sering memunculkan tekanan politik, ego kelompok, hingga gangguan yang membuat negosiasi gagal sebelum matang.
Karena itu, ia lebih memilih membangun kepercayaan terlebih dahulu di belakang layar.
Dan mungkin di situlah “rahasia” terbesar Jusuf Kalla selama ini.
Baginya, perdamaian tidak selalu lahir dari pidato besar, tetapi dari kemampuan membuat pihak yang bertikai mau berbicara tanpa sorotan berlebihan.
JK juga menegaskan keterlibatannya dalam berbagai konflik bukan semata inisiatif pribadi. Ia mengaku sering diminta langsung oleh pihak-pihak terkait untuk membantu membuka jalan dialog.
Meski begitu, ia mengakui proses perdamaian hampir selalu bersentuhan dengan kepentingan politik yang rumit.
“Kadang-kadang tanpa terasa dikaitkan dengan politik. Itu masalahnya,” katanya.
Pendekatan JK memperlihatkan satu hal penting dalam dunia konflik. bila terlalu banyak eksposur kadang justru merusak proses damai.
Ketika negosiasi masih rapuh, tekanan publik dan kepentingan politik bisa membuat pihak-pihak yang bertikai kembali mengeras demi menjaga citra masing-masing.
Karena itu, diplomasi senyap sering menjadi strategi paling efektif dengan membangun komunikasi diam-diam, memperkuat rasa percaya, lalu membuka hasilnya ketika peluang damai sudah cukup matang.
Dan mungkin itulah sebabnya nama Jusuf Kalla berkali-kali muncul dalam sejarah perdamaian Indonesia. Ia lebih sering bekerja dalam senyap daripada berbicara terlalu cepat di depan publik.
(ipta)

Komentar