Opini & Insight
Beranda / Opini & Insight / Pancasila Tidak Kekurangan Pembela

Pancasila Tidak Kekurangan Pembela

Sila-sila yang terdapat di Pancasila memiliki lambang dan maknanya masing-masing. Lambang atau simbol tersebut terdapat di perisai pada dada Garuda Pancasila. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang penting dipahami oleh seluruh masyarakat. Layaknya sebuah rumah, negara juga membutuhkan fondasi atau dasar yang kokoh agar bisa melindungi orang-orang di dalamnya. Pancasila sebagai dasar negara dirumuskan oleh para pendiri negara agar bisa menjadi pedoman kehidupan di Indonesia.(BPIP)

Pancasila mungkin satu-satunya gagasan besar di negeri ini yang hampir tidak pernah kekurangan pembela. Dari pejabat hingga oposisi, dari kampus hingga pesantren, dari ruang sidang hingga warung kopi, hampir semua orang mengaku berada di pihak Pancasila.

Tidak banyak konsep yang memiliki kemewahan seperti itu. Hampir tidak ada yang secara terbuka menolak Pancasila. Hampir tidak ada yang secara terang-terangan memusuhinya. Dan setiap tanggal 1 Juni, bangsa ini kembali mengingatnya dengan penuh hormat.

Namun justru di situlah sebuah pertanyaan menarik muncul.

Jika semua membela Pancasila, mengapa sila-silanya masih terasa begitu sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan ini bukan untuk meragukan Pancasila. Sebaliknya, pertanyaan ini muncul karena Pancasila terlalu penting untuk sekadar diperingati.

“Pak, Bukankah Ini Cuma Tes Lagi?” Percakapan dengan Thomas tentang D SMART, Data, dan Mimpi Besar Pendidikan Lampung

Selama bertahun-tahun, diskusi tentang Pancasila sering berhenti pada satu hal, tentang bagaimana mempertahankannya.

Padahal tantangan terbesar Pancasila hari ini mungkin bukan ancaman dari luar. Bukan pula penolakan terhadap keberadaannya.

Tantangan terbesar Pancasila justru datang dari kebiasaan kita sendiri yang terlalu sering menganggapnya selesai.

Kita menghafalnya sejak sekolah dasar. Kita mengucapkannya dalam upacara. Kita menuliskannya dalam berbagai dokumen resmi.

Tetapi semakin sering sesuatu diulang, ada risiko lain yang diam-diam muncul, kita berhenti merenungkannya.

Dari Lampung, Pesan Pancasila untuk Dunia yang Semakin Terbelah

Pancasila kemudian menjadi sesuatu yang diterima, tetapi tidak selalu dipikirkan. Dihormati, tetapi tidak selalu dijadikan cermin.

Padahal para pendiri bangsa tidak merumuskan Pancasila sebagai pajangan.

Mereka merumuskannya sebagai jawaban atas pertanyaan besar bangsa seperti apa yang ingin dibangun Indonesia?

Karena itu, setiap sila sesungguhnya bukan sekadar kalimat. Justru semua sila adalah tantangan.

Ketuhanan Yang Maha Esa bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga soal kemampuan menghormati sesama manusia yang berbeda keyakinan.

Ekspor Satu Pintu Komoditi Strategis Dimulai, Kontrol Data atau Kontrol Perdagangan?

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab bukan hanya soal slogan moral, tetapi soal bagaimana kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lemah dan tidak memiliki kekuasaan.

Persatuan Indonesia bukan hanya soal menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi tentang kemampuan menjaga kebersamaan ketika perbedaan politik, agama, suku, dan kepentingan semakin tajam.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan bukan sekadar prosedur demokrasi, melainkan kemampuan mendahulukan kebijaksanaan di atas kemenangan.

Dan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mungkin merupakan pertanyaan yang paling sulit dijawab hingga hari ini.

Karena keadilan bukan sesuatu yang dapat diumumkan. melainkan harus dirasakan.

Ketika petani bekerja keras tetapi belum menikmati hasil yang layak, pertanyaan tentang keadilan muncul.

Ketika pendidikan bermutu masih belum sepenuhnya dapat diakses semua anak, pertanyaan tentang keadilan muncul.

Ketika pembangunan tumbuh tetapi manfaatnya belum dirasakan secara merata, pertanyaan tentang keadilan kembali muncul.

Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya.

Bukan sebagai dokumen sejarah.

Bukan sebagai hafalan.

Melainkan sebagai alat untuk mengukur diri sendiri.

Sayangnya, kita sering menggunakan Pancasila untuk menilai orang lain, tetapi jarang menggunakannya untuk menilai diri sendiri.

Kita cepat melihat pelanggaran sila pada pihak yang berbeda pandangan.

Namun lebih lambat melihatnya pada lingkungan kita sendiri.

Padahal kekuatan Pancasila tidak terletak pada seberapa sering ia dipuji.

Kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya mengoreksi pribadi-pribadi.

Mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya soal pertumbuhan ekonomi.

Bahwa demokrasi tidak hanya soal pemilu.

Bahwa keberagaman tidak cukup dirayakan dalam pidato.

Dan bahwa keadilan tidak cukup ditulis dalam dokumen perencanaan.

Hari ini, ketika bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah tambahan pujian.

Pancasila sudah cukup sering dipuji.

Mungkin yang lebih dibutuhkan adalah keberanian untuk membiarkan Pancasila mengajukan pertanyaan kepada kita.

Sudahkah kita cukup adil?

Sudahkah kita cukup beradab?

Sudahkah kita cukup bijaksana?

Sudahkah kita cukup menjaga persatuan di tengah perbedaan?

Karena  masa depan Pancasila tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang mengaku membelanya.

Masa depan Pancasila ditentukan oleh seberapa banyak orang yang bersedia menjalankannya.

Dan itulah sebabnya, setelah puluhan tahun berlalu, Pancasila tidak pernah benar-benar membutuhkan pembela baru.

Yang lebih dibutuhkannya adalah pelaksana.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *