Nasional
Beranda / Nasional / Di Balik Kedekatan Prabowo dan Macron, Indonesia Sedang Mencari Posisi Baru di Dunia

Di Balik Kedekatan Prabowo dan Macron, Indonesia Sedang Mencari Posisi Baru di Dunia

F: BPMI

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyebut hubungan Indonesia dan Prancis saat ini berada pada titik terbaik sepanjang sejarah diplomatik kedua negara. Pernyataan itu disampaikan saat konferensi pers bersama Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée, Kamis waktu setempat.

“Yang Mulia, hubungan Indonesia dan Prancis berada di tingkat, menurut saya yang terbaik selama ini,” ujar Prabowo dalam tayangan resmi Sekretariat Presiden.

Pernyataan tersebut mungkin terdengar seperti bahasa diplomatik biasa. Namun di tengah perubahan geopolitik global yang semakin kompleks, kedekatan Indonesia dan Prancis sebenarnya menyimpan makna strategis yang jauh lebih besar.

Indonesia saat ini tidak hanya sedang membangun hubungan bilateral, tetapi juga mulai memperkuat posisi tawarnya di tengah perebutan pengaruh global antara Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa.

Dalam konteks itu, Prancis menjadi mitra penting karena memiliki posisi unik: kekuatan militer besar di Eropa, pemain utama industri pertahanan dunia, sekaligus negara yang relatif aktif menjaga pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.

Peluang bagi Siswa Kejuruan, Kemnaker Kembali Buka Pelatihan Vokasi Nasional

Karena itu, ketika Prabowo menyoroti kerja sama pertahanan, sains, teknologi, hingga pendidikan, yang sebenarnya sedang dibangun bukan sekadar hubungan diplomatik formal, tetapi upaya memperluas jejaring strategis Indonesia di panggung global.

Salah satu sektor yang paling terlihat adalah pertahanan. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Indonesia dan Prancis berkembang pesat melalui kerja sama alat utama sistem persenjataan, modernisasi militer, hingga penguatan teknologi pertahanan.

Namun menariknya, Prabowo juga mulai membawa isu pendidikan ke dalam percakapan geopolitik tersebut.

Ia bahkan menyatakan telah menginstruksikan agar bahasa Prancis mulai diperkenalkan secara luas di sekolah-sekolah Indonesia sebagai bagian dari persiapan menghadapi perkembangan dunia ke depan.

“Saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Perancis, melihat perkembangan dunia ke depan,” kata Prabowo.

Harga Sawit Jatuh di Tengah CPO Global Menguat, Pemerintah Mulai Mencium Permainan Tata Niaga

Pernyataan ini memperlihatkan satu hal penting bahwa diplomasi modern tidak lagi hanya bergerak melalui perdagangan dan militer, tetapi juga melalui bahasa, pendidikan, dan pengaruh budaya.

Bahasa pada akhirnya bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pintu masuk pengaruh global.

Karena itu, dorongan memperkenalkan bahasa Prancis bisa dibaca sebagai upaya Indonesia memperluas orientasi internasional generasi mudanya di luar dominasi bahasa Inggris yang selama ini sangat kuat.

Prabowo juga menyinggung momen ketika Indonesia diundang mengikuti parade militer Bastille Day pada 14 Juli 2025. Menurutnya, keikutsertaan Indonesia menjadi simbol pengakuan penting terhadap posisi Indonesia di mata dunia internasional.

“Tahun lalu, Indonesia mendapat kehormatan besar karena diundang bisa ikut dalam defile 14 Juli,” ujarnya.

Pencabulan di Pekalongan: Ketika Ruang Pendidikan Tidak Lagi Aman bagi Anak

Di balik simbol-simbol diplomatik tersebut, ada satu pesan yang semakin terlihat: Indonesia ingin dipandang bukan sekadar pasar besar atau negara berkembang biasa, tetapi sebagai kekuatan menengah baru yang mulai aktif memainkan peran strategis dalam percaturan global.

Namun tantangan terbesar diplomasi Indonesia sebenarnya tidak berhenti pada kedekatan dengan negara-negara besar.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa hubungan internasional tersebut benar-benar menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat dalam negeri,  mulai dari transfer teknologi, kualitas pendidikan, penguatan industri nasional, hingga peluang ekonomi yang lebih luas.

Sebab diplomasi yang kuat pada akhirnya bukan hanya soal seberapa sering pemimpin bertemu di panggung internasional, tetapi seberapa jauh kerja sama itu mampu mengubah kapasitas sebuah bangsa di dalam negerinya sendiri.(IPTA)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *