Menghitung waktu tempuh dan tarif jika proyek rel raksasa Sumatra senilai Rp448 triliun terwujud.
@Iptaveritas
***
Bayangkan suatu hari Anda berangkat dari Bandar Lampung pada pagi hari, lalu keesokan harinya terbangun di Medan. Atau berangkat sore dari Bandar Lampung dan tiba di Palembang sebelum tengah malam tanpa harus mengemudi berjam-jam di Jalan Lintas Sumatra.
Gagasan yang selama ini terdengar seperti mimpi itu mulai menemukan pijakannya setelah PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkap rencana besar pembangunan jaringan rel yang menghubungkan Bandar Lampung hingga Banda Aceh, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun konektivitas Pulau Sumatra yang terintegrasi.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut jaringan kereta api di Sumatra saat ini masih terpisah-pisah dan belum terhubung menjadi satu koridor panjang. Karena itu, pengembangan rel lintas Sumatra menjadi salah satu proyek infrastruktur paling ambisius yang pernah direncanakan di Indonesia.
Dengan estimasi investasi mencapai US$20 miliar hingga US$25 miliar atau sekitar Rp358 triliun hingga Rp448 triliun, proyek ini bukan sekadar membangun rel kereta. Ia berpotensi mengubah cara orang, barang, dan ekonomi bergerak di seluruh Pulau Sumatra.
Saat ini perjalanan darat dari Lampung menuju kota-kota besar di Sumatra masih sangat bergantung pada jalan raya dan angkutan truk.
Padahal, bila jaringan rel benar-benar tersambung seperti di Pulau Jawa, pola mobilitas masyarakat bisa berubah total.
Menggunakan simulasi berbasis kecepatan operasional kereta jarak jauh di Jawa saat ini, berikut gambaran waktu tempuh yang mungkin tercipta:
| Kota Tujuan | Estimasi Waktu |
|---|---|
| Palembang | 5โ6 jam |
| Jambi | 9โ10 jam |
| Pekanbaru | 13โ15 jam |
| Padang | 15โ17 jam |
| Medan | 21โ24 jam |
| Banda Aceh | 26โ30 jam |
Artinya, perjalanan Bandar LampungโPalembang berpotensi menjadi perjalanan rutin harian, sementara Bandar LampungโMedan dapat ditempuh hanya dalam sekitar satu hari perjalanan kereta.
Bagi banyak orang Sumatra, angka itu terdengar luar biasa.
Jika tarif mengikuti pola kereta komersial jarak jauh yang berlaku di Jawa saat ini, maka kisaran harga tiket dapat diproyeksikan sebagai berikut:
| Tujuan | Ekonomi | Eksekutif |
|---|---|---|
| Palembang | Rp75โ150 ribu | Rp200โ350 ribu |
| Jambi | Rp120โ250 ribu | Rp350โ600 ribu |
| Pekanbaru | Rp180โ350 ribu | Rp500โ900 ribu |
| Padang | Rp200โ400 ribu | Rp600 ribuโ1 juta |
| Medan | Rp300โ600 ribu | Rp900 ribuโ1,5 juta |
| Banda Aceh | Rp400โ800 ribu | Rp1,2โ2 juta |
Angka tersebut tentu masih berupa simulasi karena KAI belum mengumumkan desain layanan maupun struktur tarif resmi.
Namun jika dibandingkan dengan biaya perjalanan darat menggunakan kendaraan pribadi atau bus jarak jauh, kereta berpotensi menawarkan kombinasi yang lebih efisien antara biaya, kenyamanan, dan waktu tempuh.
Bukan Soal Penumpang Semata
Yang paling menarik justru bukan perjalanan penumpangnya.
Nilai ekonomi terbesar dari proyek ini berada pada sektor logistik.
Selama ini biaya distribusi barang di Sumatra masih tergolong tinggi karena ketergantungan pada truk. Akibatnya, biaya angkut hasil perkebunan, pertambangan, dan industri menjadi lebih mahal.
Jika rel tersambung penuh, maka:
- Batu bara dari Sumatra Selatan dapat bergerak lebih efisien.
- Sawit dari Riau dapat diangkut dengan biaya lebih rendah.
- Komoditas pertanian dari Lampung bisa menjangkau pasar baru.
- Kawasan industri di sepanjang lintas Sumatra memperoleh akses logistik yang lebih murah.
Dalam banyak negara, kereta api menjadi tulang punggung pergerakan barang karena mampu mengangkut muatan besar dengan biaya yang lebih rendah dibanding transportasi jalan raya.
Lampung Berpotensi Menjadi Gerbang Selatan Sumatra
Bagi Lampung, proyek ini memiliki arti strategis yang lebih besar.
Posisi geografis Lampung sebagai pintu masuk Sumatra menjadikan provinsi ini berpotensi menjadi simpul utama pergerakan orang dan barang dari Jawa menuju Sumatra maupun sebaliknya.
Jika suatu saat jaringan rel Sumatra terhubung dengan sistem transportasi penyeberangan di Bakauheni dan Merak, maka secara teoritis seseorang dapat melakukan perjalanan berantai dari Banda Aceh menuju Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya hingga Banyuwangi menggunakan moda transportasi berbasis rel dan kapal.
Gagasan itu mungkin terdengar futuristis hari ini.
Namun beberapa dekade lalu, banyak orang juga menganggap Jalan Tol Trans Sumatra sebagai mimpi yang terlalu besar untuk diwujudkan.
Kini jalan itu sudah membentang ribuan kilometer.
Karena itu, rencana rel Banda AcehโBandar Lampung bukan sekadar proyek kereta api. Ia adalah gambaran tentang bagaimana Sumatra dapat berubah dari pulau yang terhubung oleh jalan menjadi pulau yang terhubung oleh koridor ekonomi modern.
Dan jika rencana tersebut benar-benar terwujud, jarak antarkota di Sumatra mungkin tidak lagi diukur dalam hari, melainkan dalam jam.*****

Komentar