Ada sesuatu dalam tepuk tangan. Dua telapak tangan dipertemukan, menghasilkan suara, lalu berhenti. Selesai. Itulah gerakan yang begitu singkat tapi begitu sarat makna. Kita bertepuk untuk atlet yang menang, murid yang naik panggung menerima penghargaan, penyanyi yang baru saja menutup lagu terakhirnya. Coba perhatikan pula ruang rapat, ruang seminar, live streaming pidato pejabat, bahkan kolom komentar media sosial hari ini. Gemuruh itu selalu ada. Tetapi, tepuk tangan, atau versi digitalnya: like, love, emoji jempol, komentar โsetuju banget, Pak/Buโ, sudah lama berubah fungsi. Ia bukan lagi murni ekspresi kekaguman. Ia menjadi bukti kehadiran. Bukti keberpihakan. Bukti bahwa kita โada di barisan yang benarโ.ย
@Iptaveritas
Orang menekan tombol like bukan karena benar-benar setuju, tapi karena atasannya baru saja mem-posting sesuatu. Orang bertepuk tangan di ruang rapat bukan karena program yang baru diumumkan itu masuk akal, tapi karena semua orang di kiri-kanannya sudah bertepuk lebih dulu. Diam, dalam suasana seperti itu, terasa jauh lebih berbahaya daripada berpura-pura setuju.
Kita hidup di zaman di mana citra bergerak lebih cepat daripada kenyataan. Sebuah kebijakan bisa terlihat berhasil di slide presentasi jauh sebelum ia benar-benar diuji di lapangan. Sebuah program bisa dianggap hebat karena tagar-nya trending, bukan karena dampaknya sudah terukur. Maka tepuk tangan, baik fisik maupun digital, menjadi alat termurah untuk membangun kesan bahwa semua baik-baik saja.
Tepuk tangan tidak butuh argumen. Tidak butuh keberanian untuk menjelaskan alasan. Cukup ikuti arus.
Yang bertepuk tangan belum tentu memahami. Yang me-repost belum tentu percaya. Yang berkomentar โmantap, Pakโ di kolom bawah unggahan pejabat belum tentu yakin kebijakan itu akan berhasil.
Tapi semua itu, di permukaan, terlihat seperti dukungan penuh.
Di situlah letak pergeseran tepuk tangan dan segala variannya di era digital. Telah erubah dari ekspresi penghargaan menjadi pertunjukan loyalitas. Dan begitu dukungan harus dipertontonkan, ada pertanyaan yang layak diajukan: sebenarnya siapa yang sedang kita coba yakinkan? Publik? Atasan? Algoritma? Atau diri kita sendiri, agar tidak perlu berhadapan dengan kejanggalan yang sebetulnya sudah kita sadari?
Ada situasi yang lebih memilukan lagi. Seseorang tahu persis bahwa kenyataan tidak seindah yang disampaikan di atas panggung. Ia melihat anggaran yang bengkak tanpa hasil sepadan. Ia tahu program itu baru jalan di atas kertas, dan sangat paham baahwa data yang dipamerkan sudah dipilih agar terlihat rapi. Tapi begitu tepuk tangan mulai bergemuruh, atau begitu kolom komentar mulai dibanjiri pujian, ia pun ikut bertepuk, ikut mengetuk layar ponsel dan menulisย kata-kata manis yang sama sekali tidak ia yakini. Aneh sekali!
Sungguh, batinnya sesungguhnya tidak setuju. Tapi ia takut, sebab bila diam di tengah kerumunan yang riuh itu, dirinya bisa dianggap tidak mendukung. Bisa dicap pengkhianat.
Padahal sebuah keputusan tidak lantas menjadi benar hanya karena disambut tepuk tangan meriah atau ribuan likes dalam semalam. Sebuah kebijakan tidak otomatis berhasil hanya karena viral. Seseorang tidak serta-merta layak dipuji hanya karena banyak yang memberi standing ovation, baik yang sungguhan di ruangan, maupun yang berupa emoji di linimasa.
Tepuk tangan, dan segala bentuk turunannya hari ini adalah respons sosial. Bukan alat ukur kebenaran. Tapi kita sering terjebak seolah-olah keduanya sama. Makin ramai yang memuji, makin kita percaya sesuatu itu benar. Makin banyak yang mendukung di depan umum, makin kita merasa tidak pantas untuk bertanya. Kebenaran pun perlahan tidak lagi diuji lewat data atau hasil nyata di lapangan, tidak merasa perlu diperdebatkan, melainkan cukup dibangun lewat suasana. Mesem-mesem di tengahย suasana, meski kita semua tahu, semua itu bisa diciptakan, bahkan dibeli.
Di ruang-ruang kekuasaan, gejala ini jauh lebih halus sekaligus lebih berbahaya. Seorang pejabat menyampaikan capaian. Tepuk tangan. Ia mengumumkan target baru yang ambisius. Tepuk tangan. Ia melaporkan program yang sebenarnya masih tersendat di lapangan. Orangย besar katakan upah buruh kupas bawang ratusan ribu, tepuk tangan. Itu semua karena sudah jadi refleks, bukan lagi respons yang lahir dari penilaian jujur.
Yang lebih ironis, mereka yang seharusnya paling berani memberi masukan kritis justru paling sibuk menunjukkan dukungan. Padahal tidak ada pemerintahan, organisasi, bahkan rumah tangga sekalipun yang bisa bertumbuh hanya dengan pujian. Yang membuatnya tumbuh adalah keberanian mengatakan ini belum baik, ini keliru, ini belum sesuai kenyataan, ini perlu diperbaiki.
Kalimat semacam itu sering kali jauh lebih bernilai daripada tepukan paling meriah sekalipun.
Kita mungkin lupa bahwa kritik bukan lawan dari penghargaan. Justru kritik yang jujur bisa menjadi bentuk penghargaan yang paling tinggi. Orang yang selalu bilang โbagusโ kepada kita belum tentu peduli. Sebaliknya, orang yang berani bilang โini salahโ di saat semua orang berlomba memuji, mungkin justru orang yang paling menghargai kita. Sebab ia mempertaruhkan kenyamanannya sendiri demi sesuatu yang lebih penting, yaitu kejujuran.
Maka barangkali kita perlu belajar membedakan dua hal yang sering tertukar, tepuk tangan dan persetujuan. Keduanya tidak selalu sama. Tepuk tangan bisa lahir dari kekaguman tulus. Tapi bisa juga lahir dari sungkan, dari rasa takut, dari kebiasaan, dari keinginan untuk terlihat loyal, atau dari perhitungan untung-rugi yang sudah dijalankan diam-diam di kepala.
Tepukan semacam itu sebenarnya tidak lagi bercerita tentang orang yang dipuji. Ia bercerita tentang orang yang bertepuk tangan, tentang di mana ia memilih berdiri, seberapa berani ia, dan apakah ia masih bisa membedakan antara yang benar dan yang sekadar aman untuk ditunjukkan.
Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan lebih banyak tepuk tangan atau lebih banyak likes. Kita butuh lebih banyak keheningan yang jujur, keheningan orang yang memilih tidak ikut bertepuk karena memang belum pantas memberi penghargaan. Keheningan orang yang tidak ingin membohongi dirinya sendiri, keheningan orang yang tahu bahwa sesuatu yang terlihat indah dari atas panggung, atau dari layar ponsel, belum tentu seindah itu bila dilihat dari bawah.
Dan sesekali, kita butuh satu orang yang berani berdiri tanpa ikut bertepuk. Bukan karena benci, bukan karena ingin tampil beda, tetapi karena hati nuraninya belum mengizinkan kedua telapak tangannya bertemu.
Sebab, tangan bisa dipaksa untuk bertepuk. Jari bisa dipaksa untuk mengetik โsetujuโ. Tapi hati nurani tidak seharusnya dipaksa untuk membenarkan sesuatu yang kita tahu keliru.
Maka, begitu tepuk tangan kembali bergemuruh di ruang rapat, di layar televisi, atau di linimasa media sosial, mungkin ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah aku sedang bertepuk karena benar-benar bangga, atau hanya karena ingin terlihat mendukung?
Sebab tidak semua tepuk tangan adalah penghargaan.
Sebagian hanyalah suara dari orang-orang yang takut untuk diam.

Komentar