JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyebut posisi Indonesia mulai diperhitungkan dalam sektor pangan global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Presiden, konflik di Timur Tengah dan ancaman terganggunya jalur energi dunia melalui Selat Hormuz mulai memicu kepanikan di banyak negara, terutama terkait pasokan energi, pupuk, dan pangan.
โKalau Selat Hormuz terganggu, pupuk ikut terpengaruh karena banyak pupuk berasal dari minyak dan gas,โ ujar Prabowo.
Dalam situasi tersebut, Indonesia disebut mulai mendapat banyak permintaan pupuk dari berbagai negara. Prabowo mengungkapkan Australia meminta pasokan 500 ribu ton urea dari Indonesia. Permintaan serupa juga datang dari Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil.
โSekarang banyak negara minta pupuk dari Indonesia. Kita tidak euforia, kita tidak sombong, tapi kita berada di pihak yang bisa membantu,โ katanya.
Tak hanya pupuk, Prabowo juga menyebut sejumlah negara mulai melirik Indonesia sebagai sumber pasokan beras di tengah kekhawatiran global terhadap ketahanan pangan.
Menurutnya, kondisi ini tidak akan terjadi jika Indonesia gagal memperkuat sektor pertanian dan mengejar swasembada pangan dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam pidatonya, Prabowo turut memuji kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta dukungan TNI dan Polri dalam penguatan logistik pangan nasional.
Pernyataan Prabowo menunjukkan satu perubahan menarik bahwa pangan kini bukan hanya isu domestik, tetapi mulai menjadi instrumen geopolitik.
Ketika banyak negara menghadapi gangguan rantai pasok akibat konflik global, negara yang memiliki cadangan pangan, pupuk, dan kemampuan produksi pertanian mulai mendapat posisi strategis baru.
Indonesia tampaknya sedang bergerak ke arah itu.
Namun tantangan berikutnya justru lebih besar, yaitu menjaga agar surplus dan kapasitas produksi ini benar-benar berkelanjutan. Sebab posisi sebagai pemasok pangan regional tidak cukup dibangun dari momentum sesaat, tetapi dari kekuatan produksi, distribusi, dan stabilitas pertanian jangka panjang.(ipta)

Komentar