Lifestyle Opini & Insight
Beranda / Opini & Insight / Kenapa Kita Mudah Percaya Informasi yang Kita Suka?

Kenapa Kita Mudah Percaya Informasi yang Kita Suka?

Ilustrasi/copyrightshutterstock/Butsaya

Kita tidak selalu mencari kebenaran. Kadang, tanpa sadar, kita hanya mencari pembenaran atas apa yang sudah ingin kita percaya sejak awal.

Di era digital, informasi datang begitu cepat dan tanpa henti. Dalam hitungan menit, kita bisa membaca puluhan opini, menonton video pendek, melihat potongan berita, hingga menerima kiriman pesan dari grup percakapan. Semua terasa dekat, cepat, dan meyakinkan.

Namun di tengah banjir informasi itu, ada satu hal yang sering luput kita sadari bahwa manusia tidak sepenuhnya objektif.

Kita cenderung lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan, pengalaman, atau perasaan pribadi kita. Sebaliknya, kita sering lebih cepat meragukan informasi yang bertentangan dengan apa yang sudah kita anggap benar.

Inilah yang disebut sebagai confirmation bias, kecenderungan untuk mencari, mempercayai, dan mengingat informasi yang mendukung pandangan kita sendiri.

Pancasila Tidak Kekurangan Pembela

Bias ini dimiliki semua orang. Bukan hanya mereka yang kurang terdidik, tetapi juga orang-orang yang merasa paling rasional sekalipun.

Karena pada dasarnya, manusia lebih nyaman merasa โ€œbenarโ€ daripada merasa โ€œsalahโ€.

Itulah sebabnya kita sering melihat seseorang langsung membagikan berita hanya karena judulnya sesuai dengan pandangannya, tanpa benar-benar membaca isi secara utuh. Kita juga sering lebih percaya pada informasi yang membuat emosi kita terasa terwakili, entah itu marah, takut, bangga, atau kecewa.

Algoritma media sosial memperkuat keadaan ini.

Semakin sering kita menyukai jenis informasi tertentu, semakin sering pula platform menampilkan hal serupa kepada kita. Lama-kelamaan, kita hidup di dalam โ€œruang gemaโ€ yang dipenuhi pendapat yang sama. Kita merasa semua orang berpikir seperti kita, padahal mungkin kita hanya sedang berada di lingkaran informasi yang sempit.

Saat Maluku Utara Memperluas UHC, Bandar Lampung Sebenarnya Sudah Lebih Dulu Memulai

Akibatnya, perbedaan pandangan tidak lagi dianggap sebagai kesempatan untuk memahami, melainkan ancaman yang harus dilawan.

Kita membaca bukan untuk memahami, tetapi untuk menang.

Kita berdiskusi bukan untuk mencari titik terang, tetapi untuk mempertahankan posisi.

Di titik ini, literasi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan membaca.

Literasi bukan hanya soal seberapa banyak informasi yang kita konsumsi, tetapi juga tentang kemampuan mempertanyakan informasi tersebut. Apakah sumbernya jelas? Apakah datanya utuh? Apakah ada sudut pandang lain yang belum kita lihat? Apakah kita percaya karena faktanya kuat, atau hanya karena kita menyukainya?

Jika Rupiah Menembus Rp20.000, Apa yang Perlu Disiapkan Masyarakat?

Berpikir kritis sering kali tidak nyaman.

Sebab terkadang, proses memahami kebenaran mengharuskan kita menerima bahwa keyakinan kita bisa saja tidak sepenuhnya tepat.

Dan itu sulit.

Tetapi justru di situlah kedewasaan berpikir dibangun.

Orang yang literat bukan orang yang selalu merasa paling benar. Justru sebaliknya, ia cukup rendah hati untuk terus memeriksa kemungkinan dirinya keliru.

Di zaman ketika semua orang bisa berbicara, kemampuan untuk meragukan diri sendiri mungkin menjadi bentuk kecerdasan yang semakin langka.(ipta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *