Dalam momen Hari Raya Iduladha, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, memaknai berkurban tidak semata sebagai ritual keagamaan yang datang setiap tahun, tetapi sebagai refleksi mendalam atas kerja-kerja pendidikan yang berlangsung setiap hari di ruang kelas, di balik meja administrasi, dan dalam dinamika kebijakan.
Ia melihat bahwa makna kurban dalam pendidikan sesungguhnya telah hidup dalam keseharian para pendidik, tenaga kependidikan, hingga peserta didik itu sendiri. Sebuah nilai yang tidak berdiri sebagai seremoni, melainkan sebagai etika pengabdian yang terus bekerja dalam diam.
Di ruang kelas, kurban hadir dalam kesediaan guru untuk menanggalkan ego pedagogisnya. Tidak selalu menjadi pusat pengetahuan, guru justru membuka ruang bagi tumbuhnya kemandirian siswa sebagai subjek pembelajar. Di situ, pengajaran bukan sekadar transfer ilmu, melainkan kesabaran yang panjang menghadapi keberagaman karakter, keterbatasan, serta tantangan sistem yang tidak selalu ideal.
Pada level tenaga kependidikan dan pengelola satuan pendidikan, kurban termanifestasi dalam bentuk disiplin, integritas, dan konsistensi menjaga layanan pendidikan. Ada pengorbanan atas kenyamanan jangka pendek demi memastikan sistem berjalan tertib, transparan, dan tetap berorientasi pada mutu. Hal-hal yang sering tidak tampak di permukaan, tetapi justru menjadi fondasi kokoh dunia pendidikan.
Sementara bagi peserta didik, kurban berarti latihan mengendalikan diri di tengah derasnya distraksi era digital. Kemampuan menunda kesenangan, menjaga fokus, dan menumbuhkan ketekunan menjadi bentuk pengorbanan generasi muda dalam membangun masa depannya sendiri.
Dalam perspektif kebijakan, dunia pendidikan juga dituntut untuk berani berkurban dalam arti yang lebih luas, meninggalkan pola lama yang tidak lagi relevan, membuka diri pada inovasi, serta memastikan setiap kebijakan benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas manusia. Transformasi tidak pernah lahir tanpa keberanian untuk melepaskan sesuatu yang sudah nyaman.
Dari seluruh lapisan itu, Thomas Amirico menegaskan bahwa berkurban dalam pendidikan sesungguhnya bertumpu pada tiga nilai utama, yaitu keikhlasan dalam mengajar, kesabaran dalam mendidik, dan keberanian untuk berubah.
Tiga hal yang mungkin tidak selalu tampak, tetapi diam-diam menjadi fondasi lahirnya generasi Lampung yang lebih berdaya, adaptif, dan manusiawi.(ipta)

Komentar